Kapanewon di Gunungkidul Siapkan Dana Droping Air Hadapi Kemarau

1 day ago 6

Kapanewon di Gunungkidul Siapkan Dana Droping Air Hadapi Kemarau

Tangki milik BPBD Gunungkidul pada saat menyalurkan bantuan air bersih ke salah satu bak penampungan air yang dimiliki warga Dusun Sumber, Planjan, Saptosari. Kamis (18/5/2023)./Istimewa-BPBD Gunungkidul

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL— Sejumlah kapanewon di Kabupaten Gunungkidul mulai menyiapkan langkah antisipasi menghadapi musim kemarau 2026 yang diperkirakan berlangsung lebih panjang dibanding tahun sebelumnya. Pemerintah kapanewon bahkan telah menyiapkan anggaran khusus untuk program droping air bersih bagi warga terdampak kekeringan.

Kepala Jawatan Sosial Kapanewon Panggang, Sri Muryani, mengatakan koordinasi dengan pemerintah kalurahan telah dilakukan untuk memetakan wilayah yang berpotensi mengalami krisis air bersih.

Menurut dia, dampak kekeringan diperkirakan terjadi di seluruh kalurahan di Kapanewon Panggang, meski hanya pada padukuhan tertentu.
“Kita akan melakukan droping air menggunakan pagu anggaran milik kapanewon. Untuk terdampak ada di seluruh kalurahan, tapi lokasinya di padukuhan tertentu karena tidak semuanya,” kata Sri Muryani, Minggu (10/5/2026).

Kapanewon Panggang mengalokasikan anggaran sekitar Rp79 juta untuk program droping air bersih. Dana tersebut ditargetkan mampu mendukung distribusi sebanyak 329 tangki air kepada masyarakat.

Rencana penyaluran bantuan air bersih diperkirakan mulai dilakukan pada Agustus 2026. Namun pelaksanaannya tetap menyesuaikan kondisi kekeringan di lapangan.

Sri Muryani menambahkan pihak kapanewon juga akan berkoordinasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Gunungkidul agar bantuan yang diberikan tidak tumpang tindih.

Menurut dia, permohonan resmi dari kalurahan tetap menjadi syarat utama agar bantuan air bersih dapat disalurkan kepada masyarakat.
Hal serupa disampaikan Panewu Purwosari, Subiyantoro. Ia mengatakan Kapanewon Purwosari juga telah menyiapkan anggaran khusus untuk bantuan air bersih selama musim kemarau.

“Untuk besaran alokasi dana droping air bersih di Purwosari Rp79,6 juta,” katanya.

Meski demikian, hingga kini distribusi bantuan belum dilakukan karena masih menunggu hasil pemetaan wilayah terdampak kekeringan bersama pemerintah kalurahan.

Subiyantoro menyebut wilayah yang biasanya paling terdampak kekeringan berada di Kalurahan Giripurwo dan Giricahyo.

Sementara itu, Kepala Pelaksana BPBD Gunungkidul, Purwono, mengatakan berdasarkan prakiraan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), musim kemarau di Gunungkidul dimulai sejak dasarian ketiga April 2026.

Ia menjelaskan tahun ini terdapat indikasi fenomena El Nino yang berpotensi membuat musim kemarau berlangsung lebih panjang.

“Mulainya akhir April dan baru memasuki musim hujan lagi pada awal November 2026,” ujar Purwono.

Untuk menghadapi kondisi tersebut, BPBD Gunungkidul telah menyiapkan bantuan air bersih sebanyak 1.500 tangki dengan kapasitas masing-masing 5.000 liter.

Total air bersih yang disiapkan mencapai sekitar 7,5 juta liter untuk memenuhi kebutuhan masyarakat di wilayah terdampak kekeringan.
“Yang disediakan ada sekitar 7,5 juta liter air bersih, siap dibagikan ke warga yang membutuhkan. Selain itu, sejumlah kapanewon juga memiliki anggaran droping sendiri,” katanya.

BPBD Gunungkidul juga akan terus berkoordinasi dengan pemerintah kapanewon dan kalurahan guna memetakan wilayah rawan kekeringan agar distribusi bantuan air bersih lebih tepat sasaran.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Jumali

Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|