
Ilustrasi ginjal. - Foto ini dibuat oleh AI/Freepik
Harianjogja.com, SLEMAN—Kasus gagal ginjal kronis di Kabupaten Sleman sepanjang 2025 menunjukkan tren mengkhawatirkan karena paling banyak menyerang kelompok usia produktif. Data Dinas Kesehatan (Dinkes) Sleman mencatat warga berusia 20–44 tahun menjadi kelompok dengan jumlah penderita tertinggi, sehingga penguatan deteksi dini dan pengendalian faktor risiko kini semakin digencarkan.
Berdasarkan rekapitulasi Dinkes Sleman periode Januari–Desember 2025, kelompok usia 20–44 tahun mencatat 401 kasus gagal ginjal kronis. Sementara itu, pada kelompok usia remaja 15–19 tahun ditemukan sebanyak 21 kasus. Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa ancaman penyakit ginjal tidak hanya dialami kalangan lanjut usia, tetapi juga mulai banyak menyerang masyarakat usia muda dan produktif.
Dilihat dari persebaran wilayah, Kapanewon Depok menjadi daerah dengan jumlah kasus gagal ginjal tertinggi di Sleman dengan total 472 kasus. Adapun jumlah kasus paling rendah tercatat di Kapanewon Turi yang mencapai 64 kasus.
Dari aspek jenis kelamin, penderita laki-laki tercatat lebih banyak dibanding perempuan. Jumlah penderita laki-laki mencapai 1.880 kasus, sedangkan perempuan sebanyak 1.633 kasus.
Sebagai respons atas tingginya kasus gagal ginjal tersebut, Kepala Bidang Pelayanan Kesehatan Dinkes Sleman, dr. Raditya Kusuma Tejamurti, mengatakan pihaknya telah menyelenggarakan pembaruan pengetahuan tata laksana penyakit ginjal bagi tenaga kesehatan selama dua hari pada 14–15 April 2025.
Kegiatan peningkatan kapasitas tersebut menyasar dokter umum di puskesmas dan klinik pratama, serta dokter umum, dokter spesialis penyakit dalam, hingga perawat di rumah sakit maupun klinik utama.
“Langkah ini kami lakukan untuk memperkuat kapasitas tenaga kesehatan dalam mendeteksi dini, menangani, dan melakukan tata laksana pasien gagal ginjal secara tepat,” kata Raditya saat dihubungi, Sabtu (9/5/2026).
Selain memperkuat layanan kuratif, Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2PL) Dinas Kesehatan Sleman, dr. Khamidah Yuliati, menyampaikan pihaknya juga terus mengintensifkan upaya promotif dan preventif guna menekan risiko penyakit ginjal, termasuk gagal ginjal kronis.
Salah satu upaya yang dilakukan ialah mengalokasikan anggaran program Penyakit Tidak Menular (PTM) untuk pelaksanaan bimbingan teknis pengendalian penyakit PTM, termasuk penyakit ginjal, bagi masyarakat non-ASN. Langkah tersebut dilakukan agar masyarakat semakin memahami pentingnya deteksi dini serta pencegahan penyakit ginjal.
Dinkes Sleman juga menggelar bimbingan teknis pengelolaan hipertensi bagi masyarakat non-ASN karena hipertensi yang tidak terkontrol berpotensi menyebabkan kerusakan ginjal hingga gagal ginjal. Selain itu, penguatan bimbingan teknis pengelolaan pelayanan diabetes melitus (DM) terus dilakukan agar kondisi pasien DM dapat lebih terkendali sehingga komplikasi menuju gagal ginjal dapat dicegah lebih awal.
Upaya kolaboratif turut diperkuat melalui kerja sama dengan Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada (FKKMK UGM) dalam seminar pengendalian hipertensi yang digelar di Aula Bappeda Sleman pada 23 Juni 2025.
Tak hanya itu, Dinas Kesehatan Sleman juga memastikan ketersediaan obat-obatan serta reagen pemeriksaan hipertensi dan diabetes melitus di seluruh puskesmas agar kondisi pasien dapat terus dipantau dan risiko komplikasi bisa dicegah sedini mungkin.
Edukasi kepada masyarakat mengenai penyakit ginjal juga diperluas melalui seminar kesehatan ginjal yang bekerja sama dengan RSA UGM dan dijadwalkan berlangsung pada 25 Agustus 2025. Seminar tersebut ditujukan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terkait faktor risiko serta pentingnya deteksi dini gangguan ginjal.
Untuk menjamin akurasi hasil pemeriksaan kesehatan, Dinkes Sleman memastikan proses kalibrasi alat pengukur tekanan darah, tinggi badan, dan berat badan dilakukan secara rutin dan terjadwal.
Selain itu, inovasi HITS (Hipertensi Terkendali di Sleman) terus dikembangkan untuk meningkatkan mutu pelayanan pasien hipertensi melalui penerapan protokol, standar operasional prosedur, alur layanan, hingga tata laksana terapi hipertensi yang terstandar di Kabupaten Sleman.
Dengan penguatan layanan kesehatan, edukasi masyarakat, serta pengendalian hipertensi dan diabetes melitus, Dinkes Sleman terus mendorong penurunan kasus gagal ginjal, terutama pada kelompok usia produktif yang kini menjadi kelompok paling terdampak.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online


















































