
BPBD Bantul saat menyalurkan bantuan air bersih sebanyak 15.000 liter di Dusun Loputih RT 04, Kalurahan Jatimulyo, Kapanewon Dlingo beberapa waktu lalu. /Dok-Istimewa.
Harianjogja.com, BANTUL—Kekeringan di Kabupaten Bantul mulai memengaruhi pasokan air bersih masyarakat seiring musim kemarau yang berlangsung dalam sekitar satu bulan terakhir. Salah satu wilayah yang terdampak berada di Dusun Loputih RT 04, Kalurahan Jatimulyo, Kapanewon Dlingo, sehingga warga mengajukan bantuan distribusi air bersih kepada Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bantul.
Permohonan bantuan tersebut muncul setelah sumber air utama warga mengalami penurunan debit yang menyebabkan distribusi air dari sumur bor tidak lagi mampu memenuhi kebutuhan harian masyarakat. Menindaklanjuti laporan tersebut, BPBD Bantul melakukan asesmen lapangan dan segera menyalurkan bantuan air bersih ke lokasi terdampak.
Kepala Bidang Kedaruratan, Logistik, dan Peralatan BPBD Bantul, Antoni Hutagaol, mengatakan penurunan debit air pada sumur bor terjadi dalam beberapa hari terakhir sehingga sistem pompa mengalami kendala operasional. Kondisi itu berdampak langsung terhadap ketersediaan air bersih bagi warga setempat.
"Debit air pada sumur bor mengalami penurunan sehingga jaringan pompa terkendala. Kondisi ini menyebabkan pasokan air bersih yang biasa digunakan warga menjadi tidak mencukupi," kata Antoni, Kamis (25/6/2026).
Berdasarkan hasil asesmen Tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD Bantul pada 22 Juni 2026, sebanyak 99 kepala keluarga (KK) atau sekitar 210 jiwa terdampak kekurangan pasokan air bersih tersebut. Warga mulai mengalami kesulitan memperoleh air untuk kebutuhan sehari-hari sejak beberapa hari sebelum asesmen dilakukan.
Antoni menjelaskan, debit air pada sumur bor utama terus mengalami penurunan selama tiga hari terakhir. Akibatnya, mesin penyedot air tidak dapat beroperasi secara maksimal karena volume air yang tersedia tidak mencukupi kebutuhan sistem pompa.
Gangguan tersebut berdampak pada distribusi air ke rumah-rumah warga. Melalui Pemerintah Kalurahan Jatimulyo, masyarakat kemudian mengajukan permohonan bantuan air bersih kepada BPBD Bantul guna memenuhi kebutuhan rumah tangga.
"Sampai sekarang baru ada satu permohonan dari Kalurahan Jatimulyo sebanyak 15.000 liter dan sudah kami salurkan pada 22 Juni lalu," jelasnya.
Menurut Antoni, penyaluran bantuan air bersih masih akan dilakukan sesuai perkembangan kebutuhan masyarakat karena sumber air yang tersedia saat ini belum mampu memenuhi seluruh kebutuhan warga terdampak.
"Masyarakat masih membutuhkan bantuan air bersih sampai sumber air yang baru dapat dimanfaatkan secara optimal," ujarnya.
Sebagai upaya jangka panjang, warga bersama pemerintah kalurahan berencana membangun sumur bor baru untuk memperoleh sumber air yang lebih memadai. Langkah tersebut diharapkan dapat menjadi solusi permanen dalam menghadapi potensi kekeringan saat musim kemarau.
Saat ini, kapasitas tampungan air permanen yang dimiliki warga setempat mencapai sekitar 15.000 liter. Namun kapasitas tersebut dinilai belum cukup untuk menjamin ketersediaan air ketika debit sumur bor mengalami penurunan secara signifikan seperti yang terjadi saat ini.
BPBD Petakan Wilayah Rawan Kekeringan
Kepala Pelaksana BPBD Bantul, Mujahid Amrudin, mengatakan pihaknya telah melakukan pemetaan terhadap sejumlah wilayah yang berpotensi mengalami kekeringan sebagai langkah antisipasi menghadapi dampak fenomena El Nino "Godzilla".
Menurut dia, wilayah yang masuk kategori rawan kekeringan meliputi Kapanewon Piyungan, Dlingo, Imogiri, Sanden, Srandakan, dan Kasihan.
"Untuk itu kami sudah siapkan sebanyak Rp20 juta untuk penunjang kebutuhan bantuan air bersih yang setara dengan pengadaan 400 tangki air," pungkas dia.
Anggaran tersebut disiapkan untuk mendukung distribusi bantuan air bersih apabila kekeringan semakin meluas di sejumlah wilayah rawan. Dengan langkah antisipatif tersebut, BPBD Bantul berharap kebutuhan dasar masyarakat tetap terpenuhi selama musim kemarau berlangsung dan potensi dampak kekeringan dapat diminimalkan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online


















































