Di tengah-tengah kesibukan mengurus negara, kegundahan dan kekosongan luar biasa dari dalam diri Khalifah Harun ar-Rasyid.
REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Sejarah Islam mencatat sebuah malam sunyi ketika kekuasaan dan kemegahan tak lagi bermakna di hadapan nasihat ulama. Khalifah Harun ar-Rasyid, penguasa besar Dinasti Abbasiyah, menangis pilu hingga hampir pingsan setelah mendengar peringatan tajam tentang amanah kepemimpinan dan pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT.
Dikisahkan Fariduddin Attar pada abad ke-12 dalam kitab Tadzkiratul Auliya, pada suatu malam, Khalifah Harun ar-Rasyid memanggil Fazl Barmasid salah seorang pengawal kepercayaannya.
Kepada Fazl, Harun ar-Rasyid berkata, "Pada malam ini bawalah aku kepada seseorang yang dapat menunjukkan kepadaku siapakah aku ini sebenarnya. Aku telah bosan dengan segala kebesaran dan kebanggaan."
Fazl pun membawa Harun ar-Rasyid ke rumah Sufyan al-Uyainah. Mereka mengetuk pintu, lalu dari dalam terdengar suara, “Siapakah itu?”
“Pemimpin kaum Muslimin (Khalifah),” jawab Fazl.
Sufyan berkata, “Mengapa Sultan harus menyusahkan diri datang ke sini? Mengapa tidak dikabarkan saja kepadaku, niscaya aku yang akan datang menghadapnya.”
Mendengar ucapan itu, Harun ar-Rasyid berkata, “Ia bukan orang yang kucari. Ia pun menjilatku seperti yang lainnya.”
Mendengar perkataan tersebut, Sufyan al-Uyainah berkata, “Jika demikian, Fuzail bin Iyaz adalah orang yang engkau cari. Pergilah kepadanya."

15 hours ago
1

















































