REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Menjalani Ramadhan di New York City, Amerika Serikat, menghadirkan dinamika unik bagi komunitas Muslim di tengah keriuhan kota yang tak pernah tidur.
Nubly Kautsar (44), seorang warga Indonesia yang telah lima tahun menetap di sana, berbagi kisahnya mengenai tantangan berpuasa di negeri empat musim. Pada tahun 2026 ini, Ramadhan bertepatan dengan musim dingin, yang membuat durasi puasa menjadi lebih singkat, yakni sekitar 12 jam: mulai dari fajar pukul 05.17 hingga terbenam matahari pukul 17.44 waktu setempat.
Meskipun udara dingin membantu menekan rasa haus dan lapar, kerinduan akan suasana khas tanah air tetap tak terhindarkan. Berbeda dengan Indonesia yang dipenuhi pedagang takjil di pinggir jalan, warga Muslim di New York harus lebih mandiri dalam menyiapkan hidangan berbuka.
Banyak dari mereka memilih untuk memasak sendiri di rumah atau mengunjungi Masjid Al-Hikmah New York, pusat komunitas Indonesia yang setia menyajikan takjil gratis dan menjadi pelepas rindu akan masakan nusantara.
Kebersamaan di Masjid Al-Hikmah tidak hanya sebatas urusan perut, tetapi juga menjadi simpul penguat spiritual melalui shalat tarawih berjamaah. Menariknya, suasana Ramadhan di New York terasa sangat inklusif karena keberagaman etnis yang ada, mulai dari komunitas Arab, Pakistan, Bangladesh, hingga warga asli Amerika. Keberagaman ini menciptakan harmoni dalam acara buka puasa bersama yang sering diadakan lintas komunitas.
Rasa aman dan kepercayaan diri umat Muslim di New York pun semakin meningkat pada Ramadhan tahun ini. Hal ini tidak lepas dari dinamika politik lokal dengan terpilihnya Zohran Mamdani sebagai Wali Kota New York Muslim pertama. Menurut Nubly, kehadiran pemimpin Muslim di balai kota memberikan rasa nyaman bagi komunitas untuk menunjukkan identitas mereka secara terbuka tanpa bayang-bayang diskriminasi atau Islamofobia yang sempat menghantui di masa lalu.
Sementara itu, gema kemuliaan Ramadhan juga terasa kental di tanah air, tepatnya di Kabupaten Karawang, Jawa Barat. Pemerintah Kabupaten Karawang mulai menyalurkan dana insentif keagamaan sebagai bentuk apresiasi nyata bagi para pegiat syiar Islam. Melalui Bagian Kesra Setda Karawang, bantuan ini didistribusikan secara transparan melalui transfer langsung ke rekening masing-masing penerima guna menjamin akuntabilitas.
Program ini menyasar ribuan pejuang keagamaan, mencakup 10.656 guru ngaji, 2.442 marbot masjid, 1.200 amil, serta 4.850 guru madrasah. Nominal yang diberikan bervariasi sesuai kategori, mulai dari Rp1 juta bagi marbot hingga Rp1,5 juta untuk guru ngaji. Langkah ini diambil pemerintah daerah berdasarkan hasil verifikasi ketat agar bantuan tersebut benar-benar jatuh ke tangan mereka yang telah berdedikasi menjaga moralitas sosial di tengah masyarakat.
sumber : Antara

9 hours ago
3

















































