Laporan: Turki Merapat ke Pakta Pertahanan Saudi-Pakistan yang Berkekuatan Nuklir

10 hours ago 2

REPUBLIKA.CO.ID, ANKARA --  Turki dilaporkan tengah melakukan lobi-lobi untuk bergabung dengan pakta pertahanan antara Arab Saudi dan Pakistan yang bersenjata nuklir. Langkah ini dapat menciptakan blok militer baru di Timur Tengah di tengah meningkatnya ketegangan di Teluk dan Iran.

Bloomberg mengutip orang yang mengetahui laporan itu mengabarkan pada Jumat bahwa pembicaraan antara Turki, Arab Saudi, dan Pakistan berada pada tahap lanjut dan kesepakatan sangat mungkin terjadi.

Jika Pakistan, Turki, dan Arab Saudi menandatangani pakta pertahanan trilateral, itu akan menghubungkan tiga negara terbesar di kawasan ini, masing-masing dengan keunggulan unik.

Dilansir laman MEE, Arab Saudi yang kaya minyak adalah satu-satunya ekonomi G-20 di dunia Arab dan rumah bagi Mekah dan Madinah, dua kota tersuci dalam Islam. Pakistan adalah satu-satunya negara bersenjata nuklir di dunia Muslim.

Turki, yang terletak di Asia dan Eropa, memiliki angkatan darat terbesar kedua di NATO. Baik Islamabad maupun Ankara muncul sebagai produsen dan pengekspor senjata cutama.

Turki telah memasok drone ke Ukraina untuk digunakan melawan Rusia. Turki telah muncul sebagai pendukung militer utama Suriah dan juga memiliki pasukan yang ditempatkan di Libya.

Sementara Pakistan yang kekurangan dana sedang mencoba untuk memanfaatkan keahlian militernya untuk keuntungan ekonomi. Pada bulan Desember, mereka menandatangani kesepakatan senilai $4 miliar untuk menjual peralatan militer, termasuk 16 pesawat tempur JF-17, kepada Tentara Nasional Libya pimpinan Jenderal Khalifa Haftar.

Reuters melaporkan awal pekan ini bahwa Pakistan dan Arab Saudi juga sedang bernegosiasi untuk mengkonversi sekitar 2 miliar dolar AS pinjaman Saudi menjadi kesepakatan untuk membeli JF-17, pesawat tempur yang diproduksi bersama oleh China dan Pakistan.

Pakistan juga di ambang kesepakatan senjata senilai 1,5 miliar dolar AS dengan tentara Sudan, yang didukung oleh Arab Saudi dan Turki, yang berperang melawan pasukan paramiliter Rapid Support Forces (RSF) yang didukung UEA.

"Pakistan diperkirakan akan menjual 10 pesawat serang ringan Karakorum-8 kepada militer Abdel Fattah al-Burhan, lebih dari 200 drone untuk pengintaian dan serangan kamikaze, dan sistem pertahanan udara canggih," lapor Reuters.

Aamir Masood, seorang pensiunan marsekal udara Pakistan, mengatakan kepada Reuters bahwa penjualan itu adalah kesepakatan pasti dan mungkin juga termasuk pesawat tempur JF-17.

Aliansi di kawasan

Pakistan secara historis dekat dengan Arab Saudi dan Turki. Kedua negara terakhir ini tidak selalu sependapat.

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|