Mengapa Harga Emas Menggila? Jawabannya Ada di Gedung Putih

2 hours ago 2

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON – Peningkatan luar biasa harga logam mulia tahun lalu semakin meningkat pada 2026. Tindakan Presiden AS Donald Trump mengacak-acak aturan main perekonomian dan geopolitik dunia disebut jadi salah satu pemicunya. 

Harga emas sejak tahun lalu berulang kali memecahkan rekor. Nilainya telah meningkat lebih dari seperempat bulan ini dan mencapai level tertinggi baru di bawah 5.595 dolar AS (Rp 93,9 juta dengan kurs Rp 16.700 per dolar AS) per ons pada Kamis. Angka itu sempat turun tajam pada hari berikutnya menjadi 5.250 dolar AS (Rp 88,1 juta) karena banyaknya spekulasi mengenai kemungkinan tindakan AS di Iran, namun nilainya masih hampir dua kali lipat dibandingkan ketika masa jabatan kedua Donald Trump di Gedung Putih dimulai tahun lalu. 

Sementara itu, perak diperdagangkan di bawah 30 dolar AS (Rp 503.000) per ons ketika Trump bersiap mengumumkan tarif “Hari Pembebasan” pada April 2025 lalu. Pengumuman itu memulai rangkaian panjang perang dagang dan negosiasi ulang dengan berbagai negara.

Sejak itu harga perak telah meningkat hampir empat kali lipat, menjadi lebih dari 118 dolar AS (Rp 1,98 juta) per ons. Kenaikan paling cepat terjadi dalam sebulan terakhir. 

The Guardian mengutip Giuseppe Sersale, ahli strategi ekonomi di Anthilia Italia, yang mengatakan fenomena pasar ini memiliki “semua ciri-ciri mania”. Ia menggambarkan pergerakan harga baru-baru ini sebagai “parabola”.

Emas selalu menjadi aset “safe haven” yang utama, bertindak sebagai penyimpan nilai dalam menghadapi risiko inflasi atau ketidakpastian ekonomi dan geopolitik yang lebih luas, yang semuanya belakangan dipicu kebijakan Trump. Kebijakan agresif pemerintah AS – termasuk tarif yang bersifat menghukum terhadap mitra dagang, ancaman untuk mencaplok atau membom negara-negara lain seperti Greenland dan Iran, serta meningkatnya tekanan terhadap Federal Reserve agar Federal Reserve memangkas suku bunganya, termasuk meluncurkan kasus pidana terhadap kepala bank sentral, Jerome Powell – membuat para investor bergegas mencari logam mulia tersebut. 

Trump melanjutkan serangannya terhadap Powell setelah keputusan terbaru The Fed untuk mempertahankan suku bunga pada Rabu. “Bahkan orang bodoh ini mengakui bahwa inflasi tidak lagi menjadi masalah.” 

Namun, para analis memperingatkan bahwa gangguan terhadap independensi The Fed berisiko memicu kenaikan harga lebih lanjut. Daniela Hathorn, analis pasar senior di Capital.com, menyimpulkan situasi ini: "Emas dan perak mencerminkan lebih dari sekadar tekanan pasar jangka pendek; mereka menandakan juga tingkat kepercayaan (trust). Kepercayaan pada mata uang, pada institusi, dan pada stabilitas tatanan ekonomi pascaperang dingin.”

Gagasannya di sini adalah bahwa bahkan jika inflasi AS menjadi tidak terkendali, sehingga melemahkan nilai dolar AS (sebuah gagasan yang dikenal sebagai “penurunan nilai”), emas akan mempertahankan nilainya. Namun, argumen yang sama juga berlaku untuk mata uang kripto seperti bitcoin, yang tidak mengalami pembelian yang sama seperti logam mulia.

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|