Diskusi dan bedah buku bertajuk Tipologi Anak Muda Indonesia digelar di Pondok Pesantren Al Inayah, Dusun Nglarangan, Desa Sidoagung, Tempuran, Kabupaten Magelang, Sabtu (14/3/2026). - Ist/Dok Panitia
Harianjogja.com, MAGELANG—Lansekap kehidupan generasi muda saat ini telah bertransformasi drastis akibat kepungan algoritma media sosial dan ruang digital yang masif.
Fenomena ini memicu lahirnya pemetaan baru mengenai karakter pemuda yang dibedah secara mendalam dalam diskusi buku "Tipologi Anak Muda Indonesia" di Pondok Pesantren Al Inayah, Tempuran, Magelang, Sabtu (14/3/2026).
CEO Alvara Research Center sekaligus penulis buku, Hasanuddin Ali, mengungkapkan bahwa memahami dinamika kaum milenial dan Gen Z sangat krusial karena merekalah pemegang tongkat estafet kepemimpinan pada 2045 mendatang.
Melalui riset statistik yang terukur, terungkap bahwa anak muda tanah air kini terbelah ke dalam tiga kelompok besar dengan perilaku yang kontras.
“Untuk memprediksi Indonesia di masa depan, kita harus memahami generasi mudanya sekarang. Karena merekalah yang nanti akan menjadi pemimpin,” ujarnya. Hasanuddin memerinci, kelompok pertama adalah "Si Paling Eksis" [30 persen] yang cenderung dominan dan aktif berorganisasi.
Lalu, kelompok terbesar yakni "Si Digital" (42%) yang lebih nyaman membangun relasi di dunia maya dan fokus pada pengembangan kapasitas pribadi. Terakhir, terdapat tipe "Si Santuy" (28%) yang mengadopsi gaya hidup slow living tanpa tekanan ambisi yang meledak-ledak.
Anggota Komisi VIII DPR RI, Wibowo Prasetyo, yang hadir dalam acara kolaborasi dengan Ditjen Diktis Kemenag tersebut, menegaskan bahwa ruang digital telah mengubah cara pandang generasi ini terhadap masa depan.
“Generasi muda Indonesia kini tumbuh dalam lingkungan yang berbeda dibanding generasi sebelumnya. Ruang digital memainkan peran besar dalam membentuk cara berpikir, cara berinteraksi, hingga cara mereka memandang masa depan,” ujar Wibowo Prasetyo, dalam sambutannya.
Wibowo menilai buku tersebut menjadi instrumen penting bagi pembuat kebijakan dan akademisi untuk memahami pergeseran identitas sosial yang terjadi sangat cepat.
“Buku ini tidak hanya menggambarkan pola perilaku anak muda, tetapi juga memberi perspektif untuk memahami dinamika sosial, politik, ekonomi, dan budaya yang akan membentuk masa depan Indonesia,” kata Wibowo.
Senada dengan hal itu, pengamat media sosial dan Ketua PBNU, Savic Ali, melihat pendekatan riset ini sebagai angin segar di lingkungan pesantren yang biasanya kental dengan literatur klasik. Menurutnya, pembagian tipologi ini sangat membantu pendidik dan orang tua dalam mengarahkan potensi anak secara lebih saintifik.
“Dalam organisasi atau perusahaan, sebenarnya ketiga tipe ini justru dibutuhkan. Masing-masing punya kelebihan dan kekurangan. Dengan memahami peran masing-masing, mereka bisa saling melengkapi,” katanya.
Bagi kaum muda yang penasaran dengan kecenderungan karakter mereka, Hasanuddin menyediakan fitur tes mandiri melalui laman anakmuda.alvara.id. Hasil tes tersebut nantinya akan memberikan rekomendasi pengembangan diri yang spesifik sesuai dengan hasil tipologi masing-masing individu.
Kegiatan yang turut dihadiri Kakanwil Kemenag Jateng Saiful Mujab serta ratusan santri dan mahasiswa ini diharapkan menjadi bahan refleksi untuk menyiapkan mentalitas bangsa menghadapi lompatan teknologi.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


















































