
Oleh: Ustaz Fahmi Salim, Pendiri Al-Fahmu Institute dan Alumni Pesantren Darussalam Ciamis
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Di tengah arus besar geopolitik global yang semakin keras dan sering kali ditentukan oleh kalkulasi kepentingan semata, saya semakin meyakini bahwa isu Palestina tetap menjadi salah satu ujian paling jernih bagi nurani kemanusiaan dunia.
Palestina bukan sekadar konflik perebutan wilayah. Ia adalah cermin yang memantulkan sejauh mana manusia modern masih bersedia berdiri di atas prinsip keadilan.
Karena itulah, ketika saya mendampingi delegasi Palestina yang dipimpin Dr. Taysir Hamdan Sulaiman bertemu Menteri Kebudayaan RI Fadli Zon pada 5 Mei 2026, saya memandang pertemuan itu bukan sekadar agenda kelembagaan biasa. Saya melihatnya sebagai bagian dari tanggung jawab sejarah bangsa Indonesia terhadap perjuangan kemerdekaan Palestina.
Kunjungan Dr. Taysir Sulaiman di Indonesia yang disambut langsung oleh Menteri Fadli Zon bagi saya adalah momentum yang membahagiakan ditengah rumor tak sedap perihal ditolaknya visa masuk RI delegasi Palestina yang dipimpin Dr. Bassim Naim, mantan Menkes Palestina yang memfasilitasi berdirinya RS Indonesia di Gaza pada tahun 2011 silam.
Dr. Taysir bukan sosok sembarangan. Ia adalah teman sejawat banyak pemimpin Hamas yang mendekam di penjara zionis Israel selama 19 tahun. Ia pernah satu sel dengan alm. Yahya Sinwar dan tokoh perjuangan lainnya, dan keluar dari tahanan dalam paket pertukaran 1047 tawanan Palestina dengan seorang kopral zionis Gilad Shalit yang fenomenal pada periode Oktober dan Desember 2011.
Sejak awal kemerdekaan, Indonesia telah menempatkan Palestina dalam posisi yang sangat istimewa dalam politik luar negeri kita. Dukungan kepada Palestina bukan sekadar sikap diplomatik, melainkan bagian dari identitas moral bangsa yang tertanam dalam konstitusi dan hidup dalam kesadaran kolektif rakyat Indonesia.
Dalam pertemuan tersebut, saya menyampaikan bahwa dukungan terhadap Palestina tidak boleh berhenti pada slogan solidaritas atau pernyataan politik simbolik. Dukungan itu harus diterjemahkan menjadi langkah-langkah strategis yang berkelanjutan, baik melalui jalur kemanusiaan, pendidikan, diplomasi budaya, maupun penguatan kesadaran publik.
Saya meyakini bahwa perjuangan Palestina hari ini tidak hanya berlangsung di medan perang, tetapi juga di medan narasi dan ingatan sejarah. Karena itu, saya mengusulkan kepada Menteri Kebudayaan gagasan pembangunan Museum Genosida Palestina di Indonesia.
Bagi saya, museum tersebut bukan sekadar bangunan fisik atau proyek budaya biasa. Ia adalah ikhtiar merawat ingatan kolektif umat manusia agar tragedi kemanusiaan di Palestina tidak dibiarkan tenggelam dalam kebisingan geopolitik global. Sejarah menunjukkan bahwa ketika tragedi dilupakan, maka jalan bagi pengulangan kezaliman akan terbuka kembali.
Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.

5 hours ago
3














































