REPUBLIKA.CO.ID, TEL AVIV – Serangan Amerika Serikat (AS)-Israel ke Iran dilaporkan turut dipicu janji badan intelijen Israel Mossad untuk memicu pemberontakan rakyat yang akan menggulingkan rezim. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu geram karena ternyata rencana itu kembali gagal seperti percobaan lewat unjuk rasa pada 2025.
Menurut laporan the New York Times yang juga diuraikan di Channel 12 pekan lalu, kepala Mossad David Barnea menyampaikan sebuah rencana kepada Netanyahu menjelang perang, dan memperkirakan bahwa setelah para pemimpin Iran terbunuh, lembaganya dapat “menggalang oposisi Iran.”
Mossad menjanjikan akan memicu pembangkangan massal di Iran dengan mengobarkan kerusuhan dan tindakan perlawanan lainnya melalui operasi intelijen, yang berpotensi menyebabkan keruntuhan rezim tersebut.
Laporan di the New York Times, yang diterbitkan pada Ahad dan mengutip pejabat intelijen AS dan Israel, mengatakan bahwa Netanyahu membahas rencana tersebut ketika membujuk Presiden AS Donald Trump untuk berperang melawan Iran.
Pemberontakan dalam negeri itu dimaksudkan untuk mengakhiri perang dengan cepat. Nyatanya, bahkan setelah serangan AS-Israel membunuh sedikitnya 48 petinggi iran termasuk Ayatullah Ali Khamenei pada serangan 28 Februari, tak ada pemberontakan massal.
Sebaliknya, warga Iran berduyun-duyun turun ke jalan mengabaikan bombardir AS-Israel guna menyampaikan dukungan untuk pemerintah dan mengutuk serangan. Mojtaba Khamenei, putra Ali Khamenei lekas ditunjuk menjadi pemimpin tertinggi ayahnya. Pembunuhan terhadap sekretaris Dewan Keamanan Nasional Iran, Ali Larijani, juga tak kunjung memicu penggulingan rezim.
Usulan bahwa milisi Kurdi dari luar Iran akan membantu menjatuhkan pemerintah juga tak membuahkan hasil. Militer Iran lekas memberikan serangan peringatan untuk menghalangi rencana tersebut.
Para pejabat Israel masih menaruh harapan akan pergantian rezim, namun fakta bahwa pemberontakan belum terjadi membuat Netanyahu kecewa, menurut Times. “Di balik layar,” katanya, Netanyahu “telah menyatakan rasa frustrasinya karena janji Mossad untuk memicu pemberontakan di Iran tidak terwujud.”
Dalam sebuah pertemuan keamanan di awal perang, Netanyahu “mengeluh bahwa rencana tersebut tidak berhasil,” dan menyatakan bahwa Trump “dapat memutuskan untuk menghentikan perang kapan saja.”
Sebagai respons terhadap laporan New York Times, laporan Channel 12 pada Senin malam mengatakan penilaian Mossad adalah bahwa rezim tersebut memang bisa jatuh dan masyarakat Iran dapat didorong untuk bangkit, namun hanya pada akhir perang, dan prosesnya bisa memakan waktu berbulan-bulan atau bahkan satu tahun.

4 hours ago
12














































