Foto ilustrasi bendera Palestina. / Freepik
Harianjogja.com, JAKARTA—Penolakan tegas terhadap perluasan permukiman Israel di wilayah pendudukan Palestina disuarakan dalam pertemuan darurat tingkat menteri luar negeri Komite Eksekutif Organisasi Kerja Sama Islam (OKI), Kamis (26/2/2026).
Dalam pernyataan resmi usai pertemuan, OKI mengecam langkah Israel yang terus memperluas aktivitas permukiman di wilayah Palestina yang diduduki. Kebijakan tersebut dinilai melanggar hukum internasional serta menghambat upaya perdamaian yang adil dan berkelanjutan di kawasan.
Pertemuan itu juga mengkritik keras pernyataan Duta Besar Amerika Serikat untuk Israel, Mike Huckabee, serta keputusan Kedutaan Besar AS yang memberikan layanan konsuler kepada pemukim Israel di wilayah Tepi Barat yang diduduki. OKI menilai langkah tersebut semakin memperkuat kendali Israel atas tanah Palestina dan Arab.
Selain itu, para peserta pertemuan mendesak percepatan penerapan rencana yang diumumkan Presiden AS Donald Trump, termasuk mendorong kelanjutan rencana tersebut ke tahap kedua. OKI menekankan pentingnya terwujudnya gencatan senjata yang menyeluruh dan berkelanjutan, penarikan penuh pasukan Israel, serta penyaluran bantuan kemanusiaan tanpa hambatan ke Jalur Gaza.
Pertemuan tersebut juga menyatakan dukungan penuh terhadap Palestina dalam upaya pemulihan dan rekonstruksi pascakonflik. OKI menegaskan kembali komitmen terhadap kesatuan wilayah Palestina, mencakup Gaza dan Tepi Barat.
Dalam forum tersebut, OKI memutuskan untuk menempuh langkah-langkah politik dan hukum guna menggugat kebijakan Israel di wilayah pendudukan. OKI juga menyerukan kepada komunitas internasional agar memberikan perlindungan kepada rakyat Palestina serta menegaskan dukungan terhadap berbagai upaya untuk meminta pertanggungjawaban Israel atas dugaan pelanggaran hukum internasional.
Tak hanya itu, pertemuan darurat tersebut turut menyuarakan keprihatinan mendalam atas meningkatnya ketegangan di kawasan Timur Tengah. OKI menyoroti eskalasi retorika yang dinilai semakin arogan, termasuk laporan ancaman penggunaan kekuatan terhadap Iran serta penguatan kehadiran militer ofensif di kawasan.
OKI memperingatkan bahwa peningkatan ketegangan militer berpotensi menimbulkan dampak serius dan sulit diprediksi terhadap perdamaian dan keamanan regional maupun global. Situasi ini juga dikhawatirkan berdampak negatif pada stabilitas ekonomi, ketahanan energi, serta prospek pembangunan negara-negara berkembang.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


















































