
Sejumlah pelaku UMK batik mengikuti pembahasan pembentukan koperasi sektor riil melalui inovasi Ini PaStii di Kota Jogja. /Dok-Istimewa.
Harianjogja.com, JOGJA— Pemerintah Kota (Pemkot) Jogja mendorong pelaku usaha mikro dan kecil (UMK) batik meninggalkan pola usaha secara individual dengan membangun kekuatan ekonomi melalui koperasi.
Upaya tersebut dilakukan melalui inovasi Ini PaStii atau Inisiasi Pendirian Koperasi Sektor Riil yang diarahkan untuk memperkuat ekosistem usaha batik di Kota Jogja.
Kepala Dinas Perindustrian Koperasi dan UKM Kota Jogja, Tri Karyadi Riyanto Raharjo, mengatakan koperasi yang dibentuk tidak boleh hanya menjadi wadah administratif bagi para pelaku usaha.
Menurutnya, koperasi harus berkembang menjadi pusat kegiatan usaha bersama yang mampu memperkuat posisi pelaku UMK batik, mulai dari pengadaan bahan baku hingga pemasaran produk.
“Ini PaStii kami arahkan untuk membangun kelembagaan ekonomi kolektif di sektor batik. Jadi bukan sekadar mendirikan koperasi, tetapi bagaimana koperasi itu benar-benar menjadi wadah usaha yang bisa meningkatkan daya saing anggotanya,” kata Tri, dikutip Sabtu (22/8/2026).
UMK Batik Masih Hadapi Kendala Modal dan Pemasaran
Tri mengatakan pelaku usaha batik masih menghadapi sejumlah kendala ketika menjalankan bisnis secara sendiri-sendiri. Beberapa di antaranya adalah keterbatasan modal, biaya produksi yang tinggi, serta akses pemasaran yang belum optimal.
Kondisi tersebut turut memengaruhi pengembangan produk batik unggulan daerah, termasuk Batik Segoro Amarto Reborn. Potensi produk tersebut dinilai masih dapat dikembangkan apabila didukung kelembagaan usaha bersama yang mampu mengatur produksi dan pemasaran secara lebih terarah.
Melalui Ini PaStii, Pemkot Jogja berupaya menghubungkan kebutuhan para pelaku usaha dalam satu sistem koperasi sektor riil.
Pengadaan bahan baku, produksi, pengendalian mutu, pemasaran hingga penguatan merek nantinya dapat dikelola secara kolektif melalui koperasi.
Menurut Tri, pola tersebut dapat membantu menekan sejumlah biaya yang selama ini harus ditanggung pelaku usaha secara individual. Pembelian bahan baku secara bersama, misalnya, berpeluang menghasilkan harga yang lebih efisien sekaligus meningkatkan posisi tawar koperasi.
“Yang ingin kami bangun adalah ekosistem usaha, bukan hanya badan hukum koperasi. Ada proses produksi, pemasaran, standardisasi mutu dan branding yang berjalan bersama sehingga manfaat koperasi bisa benar-benar dirasakan pelaku usaha,” ujarnya.
Koperasi Batik Disiapkan dengan Model Bisnis
Pembentukan koperasi dilakukan melalui pendampingan sejak tahap awal. Pemkot Jogja memfasilitasi proses identifikasi calon anggota, sosialisasi, penyusunan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART), pembentukan kepengurusan hingga penyusunan rencana kerja.
Pendampingan kemudian berlanjut pada kesiapan koperasi dalam menjalankan kegiatan usaha. Model bisnis disusun dengan mempertimbangkan kebutuhan produksi, strategi pemasaran dan pengembangan branding Batik Segoro Amarto Reborn.
Dengan pendekatan tersebut, koperasi diharapkan tidak sekadar aktif dari sisi kelembagaan, tetapi juga memiliki kegiatan usaha yang dapat memberikan manfaat langsung kepada anggotanya.
Tri menilai pendekatan Ini PaStii menjadi pembeda dibandingkan pembentukan koperasi yang hanya berorientasi pada aspek legalitas.
Sejak awal, koperasi diarahkan memiliki komoditas, model usaha serta tujuan pengembangan yang jelas agar dapat tumbuh secara berkelanjutan.
Selain membuka akses pembiayaan dan membantu menekan biaya pengadaan bahan, koperasi diharapkan mampu memperluas pasar produk anggota.
Kolaborasi antarpelaku usaha juga dinilai dapat membuka ruang untuk menciptakan inovasi produk dan meningkatkan kualitas secara bersama-sama.
Bagi Pemkot Jogja, keberadaan koperasi akan membuat pembinaan pelaku UMK batik menjadi lebih terstruktur. Dalam jangka panjang, penguatan industri batik diharapkan turut membuka peluang kerja sekaligus mempertahankan batik sebagai bagian dari identitas budaya lokal.
“Harapannya koperasi ini nantinya bisa menjadi contoh untuk komoditas unggulan lainnya. Kalau modelnya berhasil, pendekatan ekonomi kolektif seperti ini dapat dikembangkan untuk memperkuat koperasi sektor riil dan kesejahteraan pelaku usaha di Jogja,” kata Tri.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online


















































