
Suasana antrean panjang di jalur pendakian Merbabu via Gancik. Sabtu (30/5/2026) (Solopos/Fitroh Nurikhsan)
Harianjogja.com, BOYOLALI— Antusiasme tinggi pendaki saat libur panjang justru berujung kekecewaan di jalur pendakian Gunung Merbabu via Gancik, Kecamatan Selo. Ratusan calon pendaki terpaksa gagal naik gunung setelah kuota pendakian resmi ditutup karena melebihi kapasitas.
Pantauan di basecamp Gancik pada Sabtu (30/5/2026) malam menunjukkan antrean panjang mengular hingga ratusan meter. Para pendaki datang dari berbagai daerah untuk memanfaatkan momentum long weekend, namun tidak semuanya beruntung mendapatkan slot pendakian.
Salah satu calon pendaki asal Cirebon, Rohdi Biizul Mujib, mengaku kecewa berat. Ia sudah menempuh perjalanan jauh dan harus mengantre hingga tiga jam, namun tetap gagal mendapatkan kuota.
“Perjalanan dari Cirebon ke Semarang, lalu ke basecamp, sudah cukup jauh. Tapi tetap tidak kebagian. Tentu sangat kecewa,” ujarnya.
Mujib menilai sistem pendaftaran yang masih dilakukan secara langsung di lokasi menjadi salah satu penyebab membludaknya antrean. Ia berharap pengelola segera menerapkan sistem reservasi online agar pendaki bisa memastikan kuota sebelum datang.
Hal serupa dialami Fijar (23), pendaki asal Jogja. Ia tiba di lokasi sekitar pukul 19.00 WIB dan mendapati antrean sudah sangat panjang, bahkan mencapai sekitar 300 meter. Setelah menunggu berjam-jam, ia harus mengubur impiannya mendaki karena kuota sudah habis saat gilirannya hampir tiba.
“Sudah hampir sampai depan, tapi tiba-tiba ditutup. Mau tidak mau harus cari alternatif,” katanya.
Sejumlah pendaki akhirnya mengalihkan tujuan ke gunung lain seperti Gunung Ungaran via Perantunan dan Gunung Andong yang dinilai masih memungkinkan untuk didaki.
Sementara itu, pengelola jalur Gancik, Udin, menjelaskan bahwa pembatasan dilakukan demi keselamatan pendaki. Kuota pada malam itu telah mencapai sekitar 350 orang dan dinilai sudah melebihi kapasitas ideal.
“Kuota camp maupun tektok sudah overload. Kami harus membatasi karena di jalur atas, terutama Pos III, akan bertemu dengan pendaki dari jalur lain yang sudah terdaftar online,” jelasnya.
Ia juga mengakui kondisi ini bukan kali pertama terjadi. Setiap akhir pekan atau musim liburan, lonjakan jumlah pendaki sering menyebabkan kuota cepat habis, bahkan sebelum waktu registrasi resmi dibuka.
Pengelola membuka pendaftaran camp sejak pukul 07.00 WIB, sedangkan pendakian tektok dimulai pukul 19.00 WIB. Namun, banyak pendaki yang datang lebih awal untuk mengamankan antrean.
Fenomena ini menjadi sinyal kuat bahwa sistem manajemen pendakian perlu segera dibenahi. Tanpa inovasi seperti pendaftaran daring dan pengaturan kuota yang lebih transparan, kejadian serupa berpotensi terus berulang di masa mendatang.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : espos.id
Abdul Hamied Razak Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online


















































