Jakarta, CNBC Indonesia - Pertempuran hebat antara pasukan pemerintah Suriah dan pasukan Kurdi di wilayah sengketa kota Aleppo semakin intensif pada Kamis (8/1/2026) waktu setempat. Eskalasi ini terjadi setelah otoritas Suriah mengeluarkan perintah evakuasi bagi warga sipil dan memulai "operasi terarah" militer di kawasan pemukiman.
Pemerintah Provinsi Aleppo memberikan tenggat waktu bagi penduduk untuk mengungsi hingga pukul 13.00 waktu setempat dengan koordinasi pihak tentara. Tak lama setelah tenggat berakhir, militer meluncurkan operasi terhadap Pasukan Demokratik Suriah (SDF) yang dipimpin Kurdi di lingkungan Sheikh Maqsoud, Achrafieh, dan Bani Zaid.
Berdasarkan data Aleppo Central Response Committee, lebih dari 142.000 orang telah mengungsi di seluruh provinsi tersebut.
"Ada persentase besar dari mereka yang memiliki masalah medis sulit, orang tua, wanita, dan anak-anak," ujar Mohammad Ali, Direktur Operasi Pertahanan Sipil Suriah di Aleppo, menggambarkan kondisi pengungsi yang memprihatinkan, dilansir The Associated Press.
Pasukan Kurdi melaporkan sedikitnya 12 warga sipil tewas di lingkungan mayoritas Kurdi, sementara pejabat pemerintah melaporkan sembilan warga sipil tewas di wilayah yang dikendalikan pemerintah sejak pertempuran pecah hari Selasa lalu. Kedua belah pihak saling menuduh lawan sengaja menargetkan infrastruktur sipil, termasuk kru ambulans dan rumah sakit.
Gereja Menampung Pengungsi
Gereja Ortodoks Suriah St. Ephrem di kota Aleppo menjadi salah satu titik pengungsian bagi sekitar 100 orang yang melarikan diri dari pertempuran. Pendeta Adai Maher menjelaskan bahwa jemaat menyumbangkan kasur, selimut, dan makanan untuk para pengungsi.
"Segera setelah masalah dimulai dan kami mendengar suara bentrokan, kami membuka gereja kami sebagai tempat perlindungan bagi orang-orang yang melarikan diri dari rumah mereka," kata Pendeta Adai Maher.
Salah satu pengungsi, Georgette Lulu, menceritakan pengalamannya saat ledakan bom terjadi tepat di samping kediamannya. Ia terpaksa membawa keponakannya mengungsi ke gereja karena rasa takut yang hebat akibat kebisingan dan getaran serangan udara.
Kebuntuan Politik
Bentrokan berdarah ini terjadi di tengah kebuntuan negosiasi politik antara pemerintah pusat di Damaskus dan SDF. Di bawah Presiden interim Ahmad al-Sharaa, pemerintah sebenarnya telah menandatangani kesepakatan pada Maret lalu agar SDF bergabung dengan tentara Suriah pada akhir 2025. Namun, terjadi ketidaksamaan visi mengenai teknis integrasi tersebut.
Sentimen anti-Kurdi juga dipicu oleh komposisi tentara Suriah baru yang dibentuk setelah jatuhnya Bashar al-Assad pada Desember 2024. Banyak faksi di dalamnya merupakan mantan kelompok pemberontak yang didukung Turki dan memiliki sejarah panjang konflik dengan pasukan Kurdi. Di kota Qamishli, ribuan orang turun ke jalan memprotes serangan pemerintah dan menuduh Damaskus menjalankan agenda regional Turki.
Keprihatinan Internasional
Meskipun SDF selama bertahun-tahun menjadi mitra utama AS dalam memerangi ISIS, pemerintahan Donald Trump saat ini telah menjalin hubungan dekat dengan pemerintahan al-Sharaa dan mendesak pihak Kurdi untuk segera melaksanakan kesepakatan integrasi militer. Utusan AS Tom Barrack menyatakan bahwa pihaknya terus berupaya memfasilitasi dialog demi deeskalasi.
"Bersama dengan sekutu dan mitra regional yang bertanggung jawab, kami siap memfasilitasi upaya untuk meredakan ketegangan dan memberikan kesempatan baru bagi Suriah serta rakyatnya untuk memilih jalan dialog daripada perpecahan," tulis Tom Barrack melalui akun media sosialnya.
(tps/luc)
[Gambas:Video CNBC]















































