
Petani di wilayah Mojolegi, Karangtengah, Imogiri, Bantul mulai mengandalkan sumur bor untuk mengairi lahan pertanian saat memasuki musim kemarau, Sabtu (9/5/2026).
Harianjogja.com, BANTUL—Memasuki awal musim kemarau 2026, petani di kawasan lahan tadah hujan Kabupaten Bantul mulai mengandalkan sumur bor untuk menjaga kebutuhan air tanaman padi tetap terpenuhi. Kondisi ini terjadi terutama di wilayah pertanian yang tidak memiliki akses jaringan irigasi sungai, seperti di kawasan Imogiri.
Salah seorang petani di Mojolegi, Karangtengah, Imogiri, Supardi, 65, mengaku pompa air dari sumur bor menjadi tumpuan utama petani setempat untuk mempertahankan kelembapan sawah selama musim tanam padi berlangsung.
“Kalau di sini tidak ada sungai, jadi semuanya pakai pompa sumur bor,” katanya, Sabtu (9/5/2026).
Supardi menjelaskan sumur bor di lahannya bahkan baru rampung dikerjakan pada Kamis malam sebelum langsung dipakai untuk mengairi tanaman padi yang saat ini berusia sekitar 40 hari. Sumur dengan kedalaman sekitar 12 meter tersebut dibangun dengan biaya kurang lebih Rp2 juta.
Lahan pertanian yang dikelola Supardi memiliki luas sekitar 1.705 meter persegi. Dalam satu tahun, sawah tersebut hanya ditanami padi satu kali. Setelah masa panen selesai, lahan kemudian dimanfaatkan untuk menanam komoditas palawija seperti kacang tanah dan melon yang dinilai lebih hemat air.
“Kalau habis padi ya palawija. Airnya lebih sedikit dan perawatannya lebih gampang,” ujarnya.
Menurut dia, pengairan sawah menggunakan sumur bor biasanya dilakukan sekitar satu pekan sekali hingga kondisi lahan benar-benar basah. Namun, produktivitas padi di lahan tadah hujan tetap dinilai lebih rendah dibanding sawah yang memperoleh pasokan air dari jaringan irigasi.
“Kalau irigasi hasilnya memang lebih banyak,” katanya.
Dalam satu kali panen padi, Supardi mengaku mampu memperoleh pendapatan sekitar Rp5 juta. Sementara itu, harga gabah di tingkat petani saat ini disebut mencapai sekitar Rp1,2 juta per kuintal.
Meski Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi musim kemarau tahun ini berlangsung lebih panjang dan cenderung lebih kering, Supardi mengaku belum terlalu mengkhawatirkan ketersediaan air dari sumur bor di wilayahnya. Berdasarkan pengalaman pada musim kemarau sebelumnya, sumber air di kawasan tersebut masih tetap tersedia meski cuaca kering berlangsung cukup lama.
“Kalau kemarau panjang biasanya masih ada air,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Bantul, Joko Waluyo, sebelumnya menyarankan petani untuk mulai menanam komoditas berumur pendek selama musim kemarau 2026. Tanaman palawija maupun varietas padi berumur singkat dinilai lebih cocok karena tidak membutuhkan banyak pasokan air.
"Kami juga sudah siapkan pompa bagi daerah yang mungkin kekeringan. Sudah hampir 5.000 unit pompa kami sediakan," ujarnya.
Joko menambahkan seluruh wilayah di Kabupaten Bantul pada dasarnya cukup sesuai untuk pengembangan tanaman palawija saat musim kemarau. Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Bantul juga akan terus memantau perkembangan cuaca dan dampaknya terhadap produktivitas pertanian agar hasil panen petani tetap terjaga selama musim kemarau berlangsung.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online


















































