Pidato Soekarno di Bandung Ternyata Menginspirasi Ayatollah Khamenei

3 hours ago 3

Jumali

Jumali Selasa, 07 Juli 2026 20:37 WIB

Pidato Soekarno di Bandung Ternyata Menginspirasi Ayatollah Khamenei

Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei/ Reuters

Harianjogja.com, JOGJA—Warisan pemikiran Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno, kembali menjadi perhatian setelah namanya muncul dalam kisah yang ditulis Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.

Dalam sebuah memoar yang mengisahkan masa penahanannya pada era Shah Mohammad Reza Pahlavi, Khamenei menyebut pidato Bung Karno sebagai salah satu rujukan penting untuk menjelaskan makna persatuan di tengah perbedaan keyakinan dan ideologi.

Kisah tersebut termuat dalam memoir berjudul Cell No. 14 yang terbit pada 2021. Dalam buku itu, Khamenei menceritakan pengalamannya saat berbagi ruang tahanan dengan seorang pemuda yang belakangan diketahui berprofesi sebagai jurnalis dan memiliki keterkaitan dengan Partai Komunis Tudeh.

Menurut cerita dalam memoir tersebut, pemuda itu dikenal tertutup dan jarang berbicara mengenai dirinya. Kondisinya semakin tertekan setelah ditangkap aparat keamanan pada masa pemerintahan Shah.

Khamenei mengaku berusaha membangun komunikasi dengan tahanan tersebut. Ia bahkan disebut membantu menyuapinya agar mau makan dan perlahan membuka percakapan.

Dari hubungan yang mulai terjalin, terungkap bahwa pemuda tersebut menyimpan kekhawatiran. Ia takut diajak bergabung ke organisasi Islam karena mengaku tidak mempercayai agama apa pun.

Perbedaan pandangan itu tidak membuat Khamenei mengambil jarak. Sebaliknya, ia berusaha meyakinkan bahwa orang-orang yang menghadapi penindasan serupa seharusnya mampu menemukan titik persatuan.

Untuk menjelaskan gagasannya, Khamenei kemudian mengutip salah satu pemikiran Soekarno yang disampaikan dalam Konferensi Asia-Afrika di Bandung pada 1955.

Dalam memoir tersebut, Khamenei menulis bahwa Soekarno pernah menyampaikan bahwa dasar persatuan negara-negara berkembang bukanlah kesamaan agama, budaya, ataupun sejarah, melainkan kesamaan kebutuhan dan kepentingan yang dihadapi bersama.

Bagi Khamenei, gagasan tersebut sangat relevan dengan kondisi para tahanan politik yang berada di balik jeruji penjara. Mereka datang dari latar belakang yang berbeda-beda, baik dari sisi agama, ideologi maupun pandangan politik, tetapi memiliki pengalaman yang sama sebagai korban represi politik.

Karena itu, menurutnya, perbedaan keyakinan tidak semestinya menjadi penghalang untuk membangun solidaritas.

Dalam memoir tersebut, Khamenei menggambarkan bahwa pemikiran Soekarno membantu menjelaskan bagaimana orang-orang dengan identitas berbeda tetap dapat berdiri bersama ketika menghadapi persoalan yang sama.

Pernyataan tersebut disebut membuat rekan sesama tahanan itu terkejut. Ia tidak menyangka seorang ulama menggunakan pidato Bung Karno sebagai dasar argumentasi untuk menjelaskan pentingnya persatuan lintas ideologi.

Sejak percakapan itu terjadi, hubungan keduanya disebut menjadi lebih dekat. Mereka tidak lagi melihat perbedaan keyakinan sebagai tembok pemisah, melainkan sebagai bagian dari keberagaman yang dapat hidup berdampingan.

Kisah ini memperlihatkan bagaimana pengaruh pidato Soekarno tidak berhenti sebagai dokumen sejarah Indonesia. Gagasan yang disampaikan dalam Konferensi Asia-Afrika ternyata memiliki resonansi yang jauh lebih luas dan digunakan dalam berbagai konteks politik di dunia.

Konferensi Asia-Afrika sendiri merupakan salah satu tonggak penting diplomasi internasional Indonesia. Forum yang berlangsung di Bandung pada April 1955 itu mempertemukan negara-negara Asia dan Afrika yang baru merdeka atau sedang memperjuangkan kemerdekaan.

Dalam pidato-pidatonya, Soekarno berulang kali menekankan pentingnya solidaritas antarbangsa yang memiliki pengalaman serupa menghadapi kolonialisme, ketimpangan global, dan berbagai bentuk penindasan.

Lebih dari tujuh dekade kemudian, gagasan tersebut ternyata masih terus hidup dan dikutip dalam berbagai situasi, termasuk dalam kisah seorang tahanan politik di Iran.

Bagi Indonesia, cerita ini menjadi pengingat bahwa warisan pemikiran Bung Karno tidak hanya tercatat dalam buku sejarah nasional. Di berbagai belahan dunia, ide-idenya masih dikenang sebagai simbol persatuan yang mampu melampaui batas agama, budaya, maupun ideologi politik.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Jumali

Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|