Kalangan umat Muslim di Sydney, Australia, melaksanakan shalat Istisqa.
REPUBLIKA.CO.ID, SYDNEY – Gelombang kecaman mengalir dari masyarakat Australia menyusul tindakan kepolisian yang dinilai represif saat membubarkan paksa kegiatan sholat berjamaah yang digelar demonstran. Insiden ini terjadi di tengah aksi protes menentang kunjungan Presiden Israel, Isaac Herzog, ke Sydney pada Senin (9/2/2026).
“Rekaman video yang beredar memperlihatkan umat Islam yang tengah bersujud di tengah kota, lalu didorong secara kasar dan dipindahkan paksa oleh aparat saat sedang sholat. Hal ini sangat mengejutkan, sangat meresahkan, dan sama sekali tidak dapat diterima,” tegas Dewan Imam Nasional Australia (ANIC) dalam pernyataan resminya.
Melalui pernyataan yang diunggah di platform media sosial X, dewan tersebut menekankan bahwa aparat kepolisian seharusnya tidak mengintervensi ibadah agama atau memperkeruh situasi yang sudah sensitif.
ANIC mengekspresikan kemarahan atas insiden tersebut dan telah melayangkan nota keberatan serius kepada Komisaris Polisi New South Wales (NSW) serta menteri terkait. “Pemerintah NSW dan Perdana Menteri Chris Minns harus bertanggung jawab atas tindakan ini dan memastikan adanya akuntabilitas di tingkat tertinggi,” tambah pernyataan tersebut.
Bentrokan antara polisi dan demonstran pecah ketika ribuan orang turun ke jalan di berbagai kota di Australia guna memprotes kedatangan Herzog. Namun, Asisten Komisaris Polisi NSW, Peter McKenna, membela tindakan jajaran anggotanya yang terekam dalam video tersebut.
“Saya sepenuhnya menilai tindakan polisi malam ini dapat dibenarkan,” ujar McKenna sebagaimana dikutip dari harian Sydney Morning Herald. Ia menambahkan, hampir 6.000 orang menghadiri aksi di Sydney dan pihak kepolisian telah menahan 27 orang.

4 weeks ago
5

















































