Ratusan Lamaran Tak Berbuah Kerja, Curhat Sarjana Job Fair Kulonprogo

3 hours ago 4

Harianjogja.com, KULONPROGO—Job Fair Kulonprogo 2026 tidak hanya menjadi ajang mempertemukan pencari kerja dengan perusahaan, tetapi juga membuka potret kerasnya persaingan pasar kerja yang dihadapi para sarjana.

Di balik ramainya pelaksanaan bursa kerja yang digelar Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Kulonprogo di Exhibition Hall Taman Budaya Kulonprogo (TBK) pada 23–24 Juni 2026, tersimpan cerita para lulusan perguruan tinggi yang masih kesulitan mendapatkan pekerjaan meski telah mengantongi ijazah sarjana.

Fenomena sulitnya mencari kerja tersebut dialami oleh pencari kerja dari berbagai latar belakang. Sebagian telah menganggur berbulan-bulan, bahkan ada yang bertahun-tahun berjuang mengirim lamaran tanpa kepastian diterima bekerja. Kondisi ini menunjukkan bahwa gelar sarjana belum tentu menjadi tiket mudah untuk memasuki dunia kerja.

Salah satu pencari kerja yang hadir di Job Fair Kulonprogo adalah Hermawan Kustanta, warga Depok, Panjatan, Kulonprogo. Lulusan jurusan manajemen tersebut terakhir kali bekerja pada September 2024 dan sejak saat itu terus berupaya mencari pekerjaan baru.

Menurut Hermawan, salah satu hambatan terbesar yang dihadapinya adalah syarat batas usia maksimal yang diterapkan sejumlah perusahaan. Padahal, usianya saat ini baru 29 tahun dan ia baru menyelesaikan pendidikan sarjana pada Oktober 2023.

"Kesulitan kalau saya pribadi, usia. Karena tahun 2024 dan 2025 kemarin itu kalau daftar ada usia maksimal 25 tahun. Misal kayak Manajemen Keuangan, kalau dari kampus kan mengarahkannya ke perbankan. Tapi perbankan aja maksimal 25 tahun," ungkapnya di Exhibition Hall Taman Budaya Kulonprogo, Selasa (23/6/2026).

Hermawan mengaku sempat menunda kuliah untuk bekerja di kawasan industri Cikarang pada 2014. Namun, keputusan tersebut kini justru menjadi tantangan tersendiri karena usianya telah melewati batas maksimal yang dipersyaratkan sejumlah perusahaan saat dirinya menyandang gelar sarjana.

Ia juga mengungkapkan alasan mengundurkan diri dari pekerjaan terakhirnya sebagai tenaga pemasaran pada September 2024. Menurutnya, pendapatan yang diterima jauh dari harapan karena tidak mencapai Upah Minimum Regional (UMR) Kulonprogo.

"Gaji pokoknya udah rendah banget, Mas. Pokoknya aja Rp500.000. Kalaupun sampai target marketing-nya, tetap belum sampai UMR. Jadi enggak cucok (sebanding) istilahnya kerjaan dengan pendapatan," keluhnya.

Selama hampir dua tahun terakhir, Hermawan mengaku rutin memantau berbagai platform pencari kerja. Lebih dari 100 surat lamaran telah ia kirimkan ke berbagai perusahaan dengan beragam posisi yang tersedia.

Bahkan, ia mengaku telah menurunkan ekspektasi dengan melamar pekerjaan yang hanya mensyaratkan lulusan SMA. Namun hingga kini, ratusan lamaran tersebut belum menghasilkan panggilan kerja yang diharapkan.

Dua kali bekerja setelah menyelesaikan kuliah sarjana, dua kali pula Hermawan menerima upah yang jauh di bawah UMR. Pilihan mencari pekerjaan di luar Kulonprogo sebenarnya terbuka, tetapi ia masih mempertimbangkan biaya transportasi dan kebutuhan hidup apabila harus tinggal di luar daerah.

"Jauh Mas kalau ngelaju, dan belum minat kalau harus ngekos," tuturnya.

Selama belum mendapatkan pekerjaan tetap, Hermawan mengaku masih bergantung pada bantuan orang tuanya yang saat ini juga sudah tidak lagi bekerja karena faktor usia. Jika hingga akhir 2026 belum memperoleh pekerjaan yang layak, ia berencana kembali menekuni usaha sablon yang pernah dijalankannya sebelum kuliah.

Pada Job Fair Kulonprogo kali ini, Hermawan bahkan mendaftarkan diri untuk posisi staf gudang dan cleaning service sebagai bagian dari upayanya memperoleh pekerjaan.

"Yang pertama daftar staff gudang kedua cleaning service. Ya, opsi terakhir wirausaha, daripada enggak kerja toh. Alat-alat sablon sebagian masih ada, jadi kalau emang tahun ini enggak dapat pekerjaan, ya sablon lagi," jelasnya.

Kisah serupa juga dialami Adristy Aurea Raissa, lulusan sarjana manajemen yang telah diwisuda sejak Oktober 2025. Meski telah berstatus fresh graduate selama sekitar delapan bulan, perempuan asal Giwangan, Kota Jogja, itu masih berjuang mendapatkan pekerjaan profesional yang sesuai dengan latar belakang pendidikannya.

Adristy sengaja datang ke Job Fair Kulonprogo dengan harapan memperoleh peluang kerja yang lebih luas dibandingkan hanya mengandalkan proses rekrutmen secara daring.

Selama beberapa bulan terakhir, ia telah berkali-kali melamar pekerjaan melalui berbagai platform pencarian kerja, namun belum berhasil memperoleh pekerjaan yang diinginkan.

“Untuk saat ini, buat cari kerja tuh susah banget. Apalagi yang udah berpengalaman pun bener-bener susah, belum tentu mereka juga bisa masuk di perusahaan yang mereka mau,” ujarnya.

Adristy menjadi gambaran banyak fresh graduate yang tengah menghadapi ketatnya persaingan pasar kerja. Dalam delapan bulan terakhir, ia mengaku telah mengirimkan sekitar 30 hingga 40 lamaran kerja melalui berbagai platform seperti LinkedIn, Glints, dan Jobstreet.

Namun, proses pencarian kerja tersebut tidak selalu berjalan mulus. Beberapa kali ia berhasil melewati tahap seleksi administrasi hingga wawancara awal, tetapi proses rekrutmen berakhir tanpa kejelasan lanjutan dari perusahaan.

Fenomena tersebut dikenal di kalangan pencari kerja sebagai ghosting, yakni ketika pelamar tidak lagi menerima kabar setelah mengikuti proses seleksi.

“Kita sudah berusaha semaksimal mungkin, kita sudah jawab semaksimal mungkin. Kita ngerasa jawaban kita tuh sudah maksimal, tapi kok enggak dikabarin lama banget dari pihak perusahaannya. Kesulitannya itu sih, nunggu lama kabar dari perusahaan,” keluhnya.

Cerita Hermawan dan Adristy menjadi potret tantangan yang dihadapi banyak pencari kerja di tengah persaingan pasar tenaga kerja yang semakin ketat. Job Fair Kulonprogo pun menjadi salah satu ruang yang dimanfaatkan para pencari kerja untuk memperluas peluang, membangun koneksi dengan perusahaan, sekaligus mencari alternatif di tengah proses rekrutmen yang semakin kompetitif.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|