Reuni FHUI 1991 di Bantul Tanam Pohon, Tinggalkan Legacy Lingkungan

1 hour ago 2

Harianjogja.com, BANTUL—Perayaan 35 tahun kebersamaan Alumni Fakultas Hukum Universitas Indonesia (FHUI) Angkatan 1991 di Litto Jogja, Dlingo, Bantul, menghadirkan makna yang berbeda dari sekadar ajang temu kangen. Melalui tema 35 Years Growing Together, para alumni memilih meninggalkan legacy berupa penanaman pohon bersama lansia dan anak berkebutuhan khusus (ABK) sebagai bentuk kepedulian terhadap lingkungan sekaligus masyarakat.

Sebanyak 35 lansia dan 35 anak berkebutuhan khusus dilibatkan dalam kegiatan tersebut. Bersama para alumni, mereka menanam berbagai tanaman buah dan tanaman konsumsi di kawasan Edible Learning Garden milik Litto Jogja. Aktivitas ini menjadi simbol persahabatan yang telah terjalin selama 35 tahun sekaligus harapan agar manfaatnya dapat terus dirasakan oleh generasi mendatang.

Owner Litto Jogja, Irma Devita Purnamasari, menjelaskan konsep wisata dan penginapan bernuansa Jepang yang dikembangkannya selaras dengan semangat reuni Alumni FHUI 1991. Litto Jogja mengusung filosofi Satoyama Way of Living, yaitu kehidupan yang mengedepankan harmoni antara manusia, tumbuhan, hewan, dan masyarakat.

"Konsep kita adalah Satoyama way of living, dimana adalah harmonisasi antara manusia, tumbuhan, hewan, dan juga masyarakat. Jadi masyarakat yang akhirnya berujung kepada rahmatan lil alamin, artinya bermanfaat bagi alam semesta," ujar Irma.

Ia mengungkapkan, ide penyelenggaraan kegiatan itu berawal dari diskusi bersama Ketua Perkumpulan Alumni FHUI Angkatan 1991, Sakurayuki. Dari pertemuan tersebut, keduanya menemukan kesamaan visi untuk menghadirkan kegiatan yang tidak hanya bermakna bagi para alumni, tetapi juga memberikan manfaat bagi masyarakat luas.

"Nah, dalam hal ini, dari inisiasi Ibu Yuki, selaku ketua perkumpulan alumni FHUI 91, kebetulan kita punya visi misi yang sama, sehingga kita ingin bahwa saat ini kita meninggalkan suatu legacy, atau suatu hasil, suatu langkah yang tidak hanya untuk diri sendiri, tapi berdampak kepada masyarakat secara luas," katanya.

Sementara itu, Ketua Perkumpulan Alumni FHUI Angkatan 1991, Sakurayuki, mengatakan tema Growing Together dipilih karena mencerminkan perjalanan panjang para alumni sejak masih menjadi mahasiswa hingga kini menjalani berbagai profesi.

"Jadi, kami dari Fakultas Hukum Universitas Indonesia Angkatan 91, kita ini sedang merayakan 35 tahun persahabatan kita. Jadi, kita merasa tumbuh bersama. Dari dulu kita masih mahasiswa sampai sekarang, kita sudah menjadi orang yang semoga bermanfaat," ujarnya.

Menurutnya, penanaman pohon dipilih sebagai simbol bahwa persahabatan membutuhkan proses untuk terus tumbuh dan menghasilkan manfaat bagi orang lain. Pohon-pohon yang ditanam diharapkan tetap hidup serta memberi manfaat meski suatu saat para alumni sudah tidak lagi ada.

"Jadi, kita kemudian berpikir sebagai simbol bahwa kita tumbuh bersama, kita menanam pohon. Semoga pohon ini edible garden, ya, menanam tumbuhan. Semoga ini bisa tumbuh dan membawa manfaat, seperti kita juga tumbuh bersama 35 tahun persahabatan kita. Dan berdampak," katanya.

Sakurayuki berharap tanaman yang ditanam dapat menjadi warisan yang terus memberikan kehidupan bagi masyarakat.

"Jadi, mungkin pada saat nanti kita sudah tidak ada lagi, tapi tanaman ini akan terus tumbuh dan menjadi syafaat bagi kita semua. Dan itu bagian dari legacy kami yang melambangkan niat baik kami untuk bermanfaat bagi sesama alam semesta," tuturnya.

Pemilihan Litto Jogja sebagai lokasi reuni juga didasarkan pada kesesuaian konsep dengan tema yang diusung tahun ini. Selain dimiliki oleh sesama alumni, lokasi tersebut dinilai mampu menghadirkan suasana yang dekat dengan alam.

"Pertama, kita memang mau back to nature. Kemudian, teman kita, salah satunya adalah pemilik dari back to nature ini. Ada Litto Jogja. Tempatnya juga bagus. Local support local. Friends support friends. Dan ternyata kita merasa sangat bahagia banget bisa berkumpul di sini," ucapnya.

Bagi Sakurayuki, momen paling berkesan bukan hanya pertemuan para alumni, melainkan kebersamaan yang terjalin bersama para lansia dan anak berkebutuhan khusus. Mereka bernyanyi, berbincang, menikmati hidangan bersama, hingga menanam pohon dalam suasana penuh kehangatan.

"Dan yang paling kita grateful, yang paling kita bersyukur adalah kita bisa bersama-sama, para lansia, dan juga anak berkebutuhan khusus, bernyanyi sama-sama di sini. Kemudian juga mau makan, terus kemudian mau ngobrol, dan segala macam. Dan menanam pohon sama-sama," katanya.

Menurutnya, konsep tersebut membuat reuni memiliki makna yang jauh lebih mendalam dibanding sekadar mengenang masa kuliah.

"Jadi, menurut kita, dengan skenario seperti itu, Litto Jogja ini menjadi tempat yang sangat tepat untuk diambil dalam momen ini. Terima kasih," ujarnya.

Selain penanaman pohon, rangkaian kegiatan reuni juga diisi dengan program Letter for the Future, menikmati hasil panen melalui konsep garden to table, serta diskusi mengenai pentingnya membangun kehidupan yang berkelanjutan. Seluruh agenda tersebut dirancang untuk memperkuat semangat kebersamaan sekaligus menghadirkan dampak positif yang dapat dirasakan masyarakat dan lingkungan dalam jangka panjang.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|