Rupiah Melemah, Ekonom Ingatkan Tekanan ke Daya Beli dan Konsumsi RT

3 hours ago 3

Harianjogja.com, JAKARTA— Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) perlu direspons dengan penguatan ketahanan keuangan pribadi, bukan dengan langkah ekstrem seperti memindahkan aset secara tiba-tiba. Hal ini disampaikan Kepala Ekonom Permata Bank, Josua Pardede, di Jakarta, Selasa (23/6/2026).

“Pelemahan rupiah perlu direspons dengan penguatan ketahanan keuangan pribadi, bukan dengan perpindahan aset secara ekstrem,” ujarnya.

Menurut Josua, pelemahan rupiah memberikan dampak langsung pada harga barang impor, mulai dari gawai, elektronik, kendaraan, suku cadang, hingga sejumlah bahan pangan seperti gandum, kedelai, gula, dan susu. Hal ini terjadi karena importir harus mengeluarkan lebih banyak rupiah untuk membeli barang yang sama dalam dolar AS.

Dampak tersebut, lanjutnya, tidak selalu langsung terasa di pasar karena pelaku usaha biasanya masih memanfaatkan stok lama, kontrak harga, atau menahan kenaikan harga agar tidak langsung membebani konsumen.

Namun, jika pelemahan rupiah berlangsung dalam jangka panjang, kenaikan biaya impor hampir pasti akan diteruskan ke harga jual secara bertahap.

Tekanan ke Barang Konsumsi Harian

Josua menjelaskan, dampak pelemahan rupiah juga merembet ke barang konsumsi sehari-hari melalui kenaikan biaya bahan baku, energi, logistik, pupuk, pakan ternak, hingga kemasan. Akibatnya, produk yang terlihat lokal pun bisa ikut terdampak jika masih mengandung komponen impor.

“Barang yang terlihat lokal bisa ikut naik bila bahan bakunya mengandung komponen impor, seperti makanan olahan berbasis gandum, produk susu, kosmetik, obat, hingga kebutuhan rumah tangga,” katanya.

Dalam konteks Juni 2026, risiko inflasi ini dinilai semakin relevan. Bank Indonesia (BI) mencatat inflasi Mei 2026 naik menjadi 3,08 persen, dengan tekanan utama dari harga pangan bergejolak sebesar 6,24 persen serta harga yang diatur pemerintah sebesar 2,07 persen, termasuk penyesuaian LPG, BBM non-subsidi, dan avtur seiring kenaikan harga energi global.

Daya Beli Mulai Lebih Hati-hati

Meski demikian, tidak semua barang mengalami kenaikan harga yang sama. Barang dengan ketergantungan impor tinggi dan persaingan rendah cenderung lebih cepat naik, sementara produk domestik dengan pasokan stabil relatif lebih tertahan.

Untuk kebutuhan sembako, Josua menegaskan bahwa nilai tukar rupiah bukan satu-satunya faktor penentu harga. Faktor lain seperti musim panen, distribusi, cuaca, stok pemerintah, dan kebijakan harga juga ikut berperan.

Dari sisi daya beli, ia menyebut masyarakat mulai lebih selektif dalam berbelanja. Survei Konsumen BI Mei 2026 menunjukkan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) masih berada di level optimistis 120,9, meski turun dari 123,0 pada April. Penilaian terhadap kondisi ekonomi saat ini juga melemah menjadi 112,2 dari 116,5.

Penjualan eceran pada Mei 2026 bahkan masih terkontraksi 3,2 persen secara tahunan, meski mulai membaik secara bulanan.

“Artinya konsumsi belum jatuh, tetapi rumah tangga mulai lebih berhati-hati, terutama untuk barang sekunder dan barang tahan lama,” ujarnya.

Suku Bunga dan Tekanan Ganda Rumah Tangga

Josua juga menyoroti kebijakan Bank Indonesia yang menaikkan suku bunga acuan menjadi 5,75 persen sebagai langkah untuk menahan pelemahan rupiah sekaligus mengendalikan inflasi impor.

Kebijakan tersebut dinilai tepat untuk menjaga stabilitas, namun memiliki konsekuensi pada biaya dana dan kredit perbankan.

Data perbankan menunjukkan suku bunga kredit rupiah memang masih cenderung turun tipis, tetapi suku bunga kredit baru mulai meningkat seiring penyesuaian risiko dan kondisi pendanaan.

Kondisi ini membuat rumah tangga menghadapi tekanan ganda: harga barang impor berpotensi naik, sementara biaya pinjaman juga ikut meningkat.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Antara

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|