Rupiah Melemah ke Rp16.893 per Dolar AS, Dipicu Lonjakan Harga Minyak

1 hour ago 1

Karyawan menghitung uang dollar di money changer PT Valuta Artha Mas, ITC Kuningan, Jakarta, Selasa (8/4/2025). Nilai tukar rupiah dibuka melemah ke posisi Rp16.865 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan hari ini, Selasa (8/4/2025) usai libur Lebaran. Diketahui, penurunan nilai rupiah merupakan dampak dari kebijakan baru Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang menerapkan tarif balasan atau resiprokal terhadap ratusan negara. Trump telah mengumumkan tambahan tarif untuk produk impor asal sejumlah negara, termasuk Indonesia sebesar 32 persen yang mulai berlaku penuh per 9 April 2025. Sejumlah mata uang Asia turut melemah. Yuan China melemah 0,17%, rupee India melemah 0,71%, dolar Hong Kong melemah 0,04% dan ringgit Malaysia melemah 0,16%.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Nilai tukar rupiah pada penutupan perdagangan di Jakarta, Kamis (12/3/2026), melemah 7 poin atau 0,04 persen menjadi Rp16.893 per dolar AS dari sebelumnya Rp16.886 per dolar AS. Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi menilai pelemahan rupiah dipengaruhi oleh lonjakan harga minyak dunia yang sempat menembus 100 dolar AS per barel.

“Laporan media menyebutkan dua kapal tanker minyak internasional dihantam di dekat Irak. Laporan lain menunjukkan Oman mengevakuasi terminal ekspor minyak utama, sementara Iran terlihat memblokir Selat Hormuz yang menjadi jalur pasokan utama sekitar seperlima minyak dunia,” ujar Ibrahim dalam keterangan tertulis di Jakarta, Kamis.

Kenaikan harga minyak membuat pelaku pasar mewaspadai potensi peningkatan inflasi dalam jangka panjang. Kondisi tersebut memicu kekhawatiran terhadap kemungkinan kebijakan moneter yang lebih agresif dari bank sentral dalam beberapa bulan mendatang.

Meski Presiden Amerika Serikat Donald Trump berulang kali menyatakan perang Iran hampir berakhir, konflik antara AS dan Israel melawan Iran masih terus berlangsung.

Sentimen lain berasal dari rilis Indeks Harga Konsumen (IHK) Amerika Serikat pada Februari 2026 yang meningkat 0,3 persen secara bulanan (month-on-month/mom), naik dari 0,2 persen pada bulan sebelumnya dan sesuai dengan ekspektasi pasar.

“Data CPI Februari yang sesuai ekspektasi memberikan sedikit petunjuk. Namun data inflasi PCE masih dinantikan. Meskipun angkanya sesuai perkiraan, hal itu belum banyak menghilangkan kekhawatiran terkait tekanan harga di masa depan yang didorong sektor energi,” kata Ibrahim.

Ia menambahkan perhatian pasar pekan ini tertuju pada data indeks harga PCE yang akan dirilis pada Jumat (13/3).

“Data tersebut merupakan tolok ukur inflasi pilihan Federal Reserve dan kemungkinan akan menjadi faktor penting dalam ekspektasi inflasi jangka panjang,” ujar Ibrahim.

Sementara itu, kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada Kamis juga melemah ke level Rp16.899 per dolar AS dari sebelumnya Rp16.867 per dolar AS.

sumber : ANTARA

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|