Rupiah Tertekan Usai Perry Warjiyo Mundur, Investor Masih Berhati-hati

2 hours ago 2

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kondisi pasar mengalami gejolak pasca pengunduran diri Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo yang diumumkan pada Senin (27/7/2026), memicu pelemahan nilai tukar rupiah hingga kembali menembus level Rp 18.000 per dolar AS. Ekonom sekaligus Guru Besar Universitas Airlangga Rahma berpendapat rupiah akan melanjutkan pelemahan karena dibayangi sikap wait and see dari investor.

Pada penutupan perdagangan Senin (27/7/2026), rupiah melemah 46 poin atau 0,26 persen ke level Rp 18.009 per dolar AS. Rahma menyebut pelemahan rupiah antara lain dipicu oleh pengumuman pengunduran diri Perry Warjiyo.

"Pengumuman tersebut menimbulkan kekhawatiran pelaku pasar terhadap kesinambungan kebijakan moneter dan stabilitas makroekonomi jangka pendek sehingga mendorong aksi wait and see serta tekanan jual pada aset domestik," ujar Rahma saat dihubungi Republika, Selasa (28/7/2026).

Terbukti, pada perdagangan Selasa (28/7/2026), rupiah melanjutkan pelemahan. Hingga sekitar pukul 12.52 WIB, rupiah melemah 90 poin atau 0,50 persen ke level Rp 18.099 per dolar AS.

Rahma memprediksi, melihat tingginya volatilitas pasar akibat sentimen domestik pengunduran diri Gubernur BI serta antisipasi data makroekonomi global, pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada perdagangan Selasa (28/7/2026) diproyeksikan bergerak di kisaran Rp 17.930-Rp 18.100 per dolar AS.

"Tekanan pelemahan lanjutan masih akan dibayangi oleh kehati-hatian investor atau wait and see terhadap transisi kebijakan moneter di bawah Pejabat Gubernur Sementara BI," tuturnya.

Di sisi lain, Rahma berpendapat kebijakan BI pada masa transisi ini masih akan tetap sama seperti yang selama ini dijalankan dalam mengelola nilai tukar dan pasar. Ia menilai Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti yang ditunjuk sebagai Pejabat Gubernur Sementara BI merupakan sosok yang berpengalaman di bank sentral dan memahami dinamika pasar.

"BI diperkirakan tetap akan mengoptimalkan instrumen intervensi pasar, baik melalui transaksi spot, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), maupun optimalisasi instrumen moneter lainnya guna meredam gejolak agar rupiah tidak keluar dari level psikologisnya," jelasnya.

Lebih lanjut, Rahma menjelaskan pergerakan rupiah akan sangat dipengaruhi kelanjutan dinamika domestik. Sentimen utamanya masih berpusat pada reaksi pasar terhadap pengunduran diri Perry Warjiyo dari posisi Gubernur BI.

"Pelaku pasar akan terus memantau langkah-langkah konsolidasi yang diambil Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti selaku Pejabat Gubernur Sementara BI dalam memastikan kesinambungan kebijakan moneter serta efektivitas stabilisasi nilai tukar rupiah," tuturnya.

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|