Tanda-tanda protes atas agresi ke Venezuela disandarkan di dinding di luar Gedung Putih di Washington, Sabtu, 3 Januari 2026.
REPUBLIKA.CO.ID, MOSKOW -- Rusia sepertinya tidak akan membuat Amerika Serikat mudah mengambil alih Venezuela dan mengendalikan minyak negara Amerika Latin tersebut. Rusia ingin memulihkan tatanan hukum di Venezeula setelah Presiden Nicolas Maduro ditangkap.
Demikian disampaikan Menteri Luar Negeri Belarusia dan Rusia, Maxim Ryzhenkov dan Sergey Lavrov membahas situasi di Venezuela melalui telepon. "Keduanya sepakat untuk segera memulihkan tatanan hukum di negara itu, kata Kementerian Luar Negeri Belarusia pada Sabtu.
"Perbincangan via telepon berlangsung antara Maxim Ryzhenkov dan Sergey Lavrov. Mereka membahas situasi di Venezuela…," menurut pernyataan itu.
Rusia dan Belarusia ingin segera mengembalikan situasi Venezuela ke kerangka hukum dan memastikan penilaian hukum internasional yang komprehensif atas peristiwa yang terjadi di Venezuela.
Kedua menteri juga sepakat untuk mengoordinasikan upaya secara erat di platform internasional utama, termasuk PBB.
"Mereka sepakat bahwa situasi saat ini menimbulkan kekhawatiran serius terhadap keamanan regional dan global, yang merupakan pelanggaran yang tidak dapat diterima terhadap prinsip-prinsip hukum internasional yang utama, terutama penghormatan terhadap kedaulatan dan integritas wilayah," tulis pernyataan itu.
Sebagai tanggapan, Kementerian Luar Negeri Rusia juga mengatakan bahwa kedua negara bersatu mengecam keras agresi AS terhadap Venezuela yang melanggar norma-norma hukum internasional.
Seperti diketahui Rusia merupakan salah satu sekutu terdekat dari Nicolas Maduro yang berhaluan sosialis. Jika Venezuela diambil alih, maka Rusia akan kehilangan satu sekutu di Amerika Latin.

1 month ago
24

















































