Tabungan Masyarakat Seret, Ini Respons Bankir Soal Perang Likuiditas

5 hours ago 1

Jakarta, CNBC Indonesia - Tahun ini, industri perbankan fokus mengejar pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) melalui dana murah alias current account saving account (CASA). Namun begitu, persaingan bakal lebih ketat karena kondisi likuiditas yang makin ketat, dengan persaingan yang lebih sengit, serta pertumbuhan DPK perorangan yang terus mengalami kontraksi.

Kontraksinya DPK perorangan tidak terlepas dari adanya penarikan dana dari masyarakat untuk memenuhi kebutuhan. Data Uang Beredar dari Bank Indonesia (BI) menunjukkan DPK pada periode Januari 2025 tercatat Rp8.599,4 triliun atau tumbuh 5,3% (year on year/yoy). DPK perorangan pada Januari 2025 tercatat mengalami kontraksi sebesar 2,6%, lebih dalam dibandingkan hingga 2,1% pada Desember 2025.

Kontraksi pada Januari juga memperpanjang catatan negatif pada DPK perorangan menjadi tiga bulan beruntun. Sementara itu, penyaluran kredit pada Januari 2025 diklaim BI tetap kuat sebesar Rp 7.684,3 triliun atau tumbuh 9,6% (yoy).

Para bankir pun mengakui akan adanya tantangan ini. Presiden Direktur PT Bank Maybank Indonesia Tbk. (BNII) Steffano Ridwan mengakui bahwa meningkatkan penghimpunan dana murah tidaklah mudah, dan menyiapkan berbagai strategi untuk menghadapi tantangan ini.

"Memang membangun CASA adalah tantangan yang tidak mudah, terutama dalam keadaan likuiditas yang ketat. Terus befokus kepada layanan yang baik, cepat dan aman melalui digital platform akan menjadi salah satu fokus untuk membangun CASA," kata Steffano saat dihubungi CNBC Indonesia belum lama ini, dikutip Kamis (27/2/2025).

Ia mengatakan bank milik Maybank asal Malaysia itu menyiapkan program-program terkait pembayaran yang memudah kan nasabah baik perorangan maupun korporasi dalam rangka menggenjot pertumbuhan CASA.

"Sekira saya kami aka terus berfokus ke dua hal ini secara konsisten dan disiplin," ujar Steffano.

Sementara itu, Presiden Direktur PT Bank CIMB Niaga Tbk. (BNGA) Lani Darmawan mengatakan kontraksi DPK perorangan di awal tahun merupakan peristiwa musiman. Tetapi, ia mengakui bahwa kondisi likuiditas tahun ini akan tetap ketat.

Ia mengungkapkan bahwa pertumbuhan CASA bank milik CIMB asal Malaysia itu mampu bertumbuh 14% yoy pada akhir tahun lalu. Lani menjelaskan pertumbuhan yang mencapai double digit itu dicapai dengan pertumbuhan terbesar dari giro lewat rekening operasional dan manajemen kas.

Kendati demikian, ia mengakui pertumbuhan tahun ini tidak akan bisa setinggi tahun lalu.

"Kami targetkan pertumbuhan CASA tidak bisa setinggi tahun lalu," kata Lani saat dihubungi CNBC Indonesia belum lama ini, dikutip Kamis (27/2/2025).

Hal itu disebabkan oleh keadaan likuiditas yang makin ketat tahun ini. Di samping itu, Lani melihat tren biaya pendanaan alias cost of fund belum turun.

Strategi dengan mengembangkan nilai produk-produk pendanaan juga ditempuh oleh PT Allo Bank Indonesia Tbk. (BBHI) dalam menghadapi persaingan likuiditas. Direktur Utama Allo Bank Indra Utoyo mengatakan pihaknya terus mengembangkan beragam inovasi produk, di antaranya ada yang menyasar segmen anak muda.

"Agar tidak terjebak dalam perang bunga, secara umum strategi kami adalah untuk terus mengembangkan value proposition dari produk-produk pendanaan kami, terutama produk tabungan dengan Cost of Fund yang rendah, dengan meluncurkan beragam inovasi produk dan layanan perbankan digital yang memungkinkan nasabah untuk 'Experience a Simple Life'," terang Indra saat dihubungi CNBC Indonesia belum lama ini, dikutip Kamis (27/2/2025).

Sebagai contoh, ia mengungkapkan produk Allo Grow yang diluncurkan pada Agustus 2023 dalam aplikasi mobile Allo Bank mampu memberikan pengalaman fleksibilitas bagi generasi muda dalam mengelola tabungan mereka dengan memisahkan menjadi beberapa pos dan dapat ditarik kapan saja sesuai kebutuhan mereka.

Selain itu, PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Timur Tbk. (BJTM) alias Bank Jatim menyiasati tantangan ini dengan membuka opsi menerbitkan obligasi. Menurut Direktur Utama Bank Jatim Busrul Iman, harus ada strategi lain selain hanya mengandalkan CASA.

"Harus ada strategi lain, terkait dana tidak sekedar CASA sebagai strategi struktur funding yang lebih efisien, tapi juga efektif. Terutama aspek stabilitas terkait dana tersebut, yang memang itu penting dan diperlukan untuk jangka panjang. Salah satunya adalah kemungkinan untuk melakukan aksi korporasi berupa penerbitan obligasi," kata Busrul saat dihubungi CNBC Indonesia belum lama ini, dikutip Kamis (27/2/2025).


(fsd/fsd)

Saksikan video di bawah ini:

Video: Bos BPD Ungkap Efek Perang Dagang hingga Guyuran Likuiditas BI

Next Article Perang Likuiditas Makin Sengit, Bos Bank Asing Ini Buka-Bukaan

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|