Tahun Ini Pengelolaan Irigasi Karangtalun Tanpa Pengeringan

4 hours ago 3

Tahun Ini Pengelolaan Irigasi Karangtalun Tanpa Pengeringan Foto ilustrasi irigasi pertanian - foto dibuat menggunakan Artificial Intelligence ChatGPT

Harianjogja.com, SLEMAN—Aliran air di Daerah Irigasi (DI) Karangtalun dipastikan tetap berjalan sepanjang 2026 tanpa pengeringan panjang, sehingga pasokan air untuk pertanian tetap terjaga.

Balai Besar Wilayah Sungai Serayu Opak (BBWSSO) memastikan pengelolaan irigasi dilakukan dengan pola pemeliharaan rutin tanpa menghentikan distribusi air dalam waktu lama.

Kepala Bidang Operasi dan Pemeliharaan BBWSSO, Rr. Vicky Ariyanti, menyebut kebijakan ini diterapkan pada dua saluran utama, yakni Saluran Induk Mataram dan Saluran Induk Van Der Wijck.

“Pada tahun 2026 tidak terdapat rencana kegiatan pengeringan panjang pada kedua saluran induk tersebut,” katanya.

Sebagai pengganti pengeringan, BBWSSO melakukan penggelontoran sedimen secara rutin di kantong lumpur Bendung Karangtalun.

Kegiatan ini dilaksanakan setiap hari Selasa pada pekan kedua dan keempat setiap bulan.

Selama proses tersebut, aliran air hanya dihentikan sementara selama 12 hingga 24 jam untuk mendukung pembersihan sedimen.

Jaga Pasokan Air Pertanian

Metode ini dinilai efektif menjaga kapasitas saluran sekaligus mengurangi penumpukan sedimen tanpa mengganggu distribusi air secara signifikan.

Pendekatan tersebut juga menjadi bagian dari strategi pengelolaan sumber daya air berkelanjutan di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

Dengan sistem ini, kebutuhan air irigasi bagi lahan pertanian tetap terpenuhi sepanjang tahun.

BBWSSO menegaskan langkah ini merupakan upaya menjaga keandalan sistem irigasi agar tetap optimal dalam melayani masyarakat.

Terutama bagi petani yang bergantung pada pasokan air, keberlanjutan aliran menjadi faktor penting dalam menjaga produktivitas.

Penumpukan Sendimen Sebabkan Penyumbatan di Empat Pintu

Sebelumnya, pada 2025, pengelolaan Daerah Irigasi Karangtalun difokuskan pada penanganan penumpukan sedimen yang menyebabkan penyumbatan di empat pintu intake.

Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Serayu Opak saat itu melakukan pengerukan sedimen selama dua hari menggunakan alat berat untuk memulihkan fungsi irigasi.

Gangguan tersebut berdampak pada distribusi air ke lahan pertanian seluas 5.159 hektare, sehingga pemeliharaan dilakukan untuk memastikan aliran kembali normal.

Melalui langkah tersebut, sistem irigasi dapat kembali berfungsi optimal dan mendukung keberlanjutan produksi pertanian di wilayah tersebut.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|