
Pengunjung memadati hari pertama Pasar Kangen Taman Budaya Yogyakarta (TBY) 2026, Senin (22/6/2026) sore./Harian Jogja-Ariq Fajar Hidayat
Taman Budaya Yogyakarta (TBY), Senin (22/6). Pasar Kangen kembali digelar dan menarik ratusan pengunjung, terutama anak muda, yang datang bukan sekadar untuk bernostalgia, tetapi juga menikmati dan mengenal budaya lokal. Berikut ini laporan wartawan Harian Jogja, Ariq Fajar Hidayat.
Pasar Kangen 2026 resmi dibuka Wakil Gubernur DIY KGPAA Paku Alam X. Perhelatan budaya tahunan tersebut akan berlangsung hingga Minggu (28/6).
Suasana pasar tempo dulu terasa hidup melalui perpaduan kuliner tradisional, kerajinan lawasan, permainan rakyat, serta pertunjukan seni yang berlangsung sepanjang acara. Ribuan pengunjung tampak berkeliling menikmati berbagai sajian yang ditawarkan para tenant.
Kepala Dinas Kebudayaan DIY, Dian Lakhsmi Pratiwi, mengatakan Pasar Kangen kini diarahkan menjadi lebih dari sekadar media nostalgia.
“Ini yang akan membedakan Pasar Kangen Taman Budaya Yogyakarta. Tidak sekadar menjadi media nostalgia, tetapi akan menjadi sarana edukasi, pelestarian, dan juga regenerasi pelestarian nilai-nilai kearifan lokal,” ujar Dian saat pembukaan Pasar Kangen, Senin (22/6).
Tahun ini Pasar Kangen mengusung tema Ana Upaya, Ana Upa yang mengandung pesan tentang pentingnya ikhtiar dalam memperoleh hasil dan keberkahan.
Tema tersebut dinilai relevan dengan semangat pelaku budaya, pelaku ekonomi kreatif, hingga masyarakat yang terus berupaya menjaga tradisi agar tetap hidup di tengah perkembangan zaman.
Sebanyak 300 tenant terlibat dalam Pasar Kangen tahun ini. Jumlah tersebut dipilih setelah melalui proses kurasi terhadap lebih dari 600 pendaftar.
Tenant yang terlibat terdiri atas 165 pelaku kuliner dan 135 pelaku kerajinan serta jasa bernuansa lawasan.
Meski jumlah tenant lebih sedikit dibanding beberapa penyelenggaraan sebelumnya, penyelenggara menilai kondisi tersebut justru menciptakan suasana yang lebih nyaman bagi pengunjung.
“Ada kenyamanan. Karena namanya pasar itu ada interaksi, ada komunikasi. Nah ini yang coba kami hidupkan lagi. Jadi pasar ora ilang kumandange,” kata Dian.
Selain berburu kuliner dan produk lawasan, pengunjung juga disuguhi berbagai pertunjukan seni tradisi yang berlangsung setiap hari selama penyelenggaraan.
Sebanyak 19 kelompok kesenian dengan total 380 seniman dilibatkan untuk menghidupkan suasana Pasar Kangen.
Pertunjukan yang disajikan beragam, mulai dari musik tradisional, tari, ketoprak, hingga wayang kulit.
“Tidak hanya menikmati kuliner, tetapi sense-nya dibangun dengan melihat, mendengar nuansa tradisional dan seni-seni tradisi yang memang kita siapkan di panggung,” katanya.
Paku Alam X mengatakan tema yang diangkat tahun ini menjadi pengingat bahwa setiap hasil yang diperoleh selalu berawal dari usaha.
“Tema ‘Ana Upaya, Ana Upa’ adalah pengingat bahwa setiap hasil selalu berakar pada ikhtiar. Kehidupan yang lebih baik tidak lahir dari penantian, tetapi dari kesediaan untuk terus berusaha,” ucapnya.
Ia juga mengajak masyarakat memaknai Pasar Kangen sebagai ruang untuk mengingat kembali nilai-nilai yang tumbuh dalam kehidupan masyarakat dahulu.
“Melalui Pasar Kangen ini, mari perluas kerinduan kita pada masa lalu, bukan semata pada benda-benda lawasnya, melainkan juga nilai-nilai seperti kedekatan, kesederhanaan, gotong royong, dan kebersamaan,” tuturnya.
//Lintas Generasi
Penggagas Pasar Kangen, Ong Hari Wahyu, mengatakan kegiatan tersebut sejak awal dirancang sebagai ruang pelestarian budaya yang mempertemukan berbagai generasi.
“Ini bukan sekadar pasar rakyat, tetapi juga merupakan ruang pelestarian budaya yang menghadirkan pengalaman nostalgia melalui kuliner tradisional, benda-benda antik dan lawasan, permainan rakyat serta suasana pasar tempo dulu yang semakin jarang dijumpai di tengah perkembangan zaman,” katanya.
Salah seorang pengunjung, Dhiski Setiawan, 23, mengaku sengaja datang bersama teman-temannya setelah mengetahui informasi Pasar Kangen melalui media sosial.
Menurut dia, suasana yang ditawarkan berbeda dibanding pusat perbelanjaan modern. “Seru banget, vibes-nya beda. Kayak balik ke zaman dulu, tapi tetap ramai anak muda. Aku tadi coba beberapa jajanan yang biasanya sering ada di Pasar Kangen,” katanya.
Ia juga menilai penyelenggaraan tahun ini terasa lebih nyaman karena pengunjung memiliki ruang yang lebih leluasa untuk menikmati setiap stan dan berinteraksi dengan para penjual.
Di tengah arus modernisasi, Pasar Kangen 2026 mencoba menghadirkan kembali ruang interaksi yang selama ini menjadi bagian penting kehidupan masyarakat. Tidak hanya menjadi tempat berbelanja, tetapi juga ruang untuk menikmati budaya, berbagi cerita, dan mengenal kembali nilai-nilai yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.


















































