Jakarta, CNBC Indonesia - Kondisi di Timur Tengah (Timteng) mencekam. Amerika Serikat (AS) dan Israel memulai serangan ke Iran pada Sabtu (28/2) pagi waktu setempat, di tengah bulan suci Ramadan.
Insiden ini kemudian menmyebabkan pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, meninggal. Sejumlah pejabat tinggi Iran juga dilaporkan tewas.
Iran tak tinggal diam dan langsung melancarkan serangan balas dendam ke Israel dan beberapa wilayah Timteng yang menjadi basis pangkalan militer AS. Hingga kini, aksi perang brutal masih terus berlanjut.
Negara-negara yang berseteru mengandalkan senjata perang canggih berupa rudal balistik dan drone untuk melumpuhkan musuh. Selain itu, AS juga dilaporkan menggunakan teknologi kecerdasan buatan (AI) buatan Anthropic dalam serangan ke Iran.
Anthropic merupakan startup AI berbasis San Francisco yang sempat memasok tool AI untuk Kementerian Pertahanan/Perang AS (DoD/Pentagon) dalam kontrak jumbo bernilai US$200 juta pada 2025 lalu.
Namun, Anthropic pada pekan lalu menegaskan pihaknya menentang tool AI digunakan DoD untuk menciptakan senjata otomatis dan memata-matai warga. Anthropic menegaskan keinginannya untuk membantu sistem pertahanan AS melalui tool AI, tetapi tidak untuk menciptakan senjata.
DoD lantas murka dan Presiden AS Trump secara langsung memerintahkan lembaga-lembaga fenderal untuk berhenti menggunakan tool AI dari Anthropic. Hanya beberapa jam setelah perintah Trump, dilaporkan Anthropic masih digunakan dalam perang melawan Iran.
Komando Pusat AS di Timteng menggunakan perangkat Anthropic untuk penilaian intelijen, identifikasi target, dan simulasi skenario pertempuran, seperti yang dilaporkan oleh Wall Street Journal, dikutip dari NDTV, Senin (2/3/2026).
Claude AI buatan Anthropic juga dilaporkan digunakan dalam operasi militer AS yang menangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro.
Kemarahan Trump
Langkah besar Trump terhadap Anthropic terjadi pada Jumat (27/2) ketika CEO perusahaan tersebut, Dario Amodei, menolak tuntutan Pentagon untuk mengizinkan militer menggunakan teknologi AI-nya tanpa batasan.
Ia memerintahkan sebagian besar lembaga untuk segera menghentikan penggunaan AI Anthropic, tetapi memberi Pentagon waktu enam bulan untuk secara bertahap menghapus teknologi yang sudah tertanam dalam platform militer.
"Kita tidak membutuhkannya, kita tidak menginginkannya, dan tidak akan berbisnis dengan mereka lagi!" kata Trump dalam sebuah unggahan di media sosial, menyebut keputusan Anthropic sebagai "kesalahan yang sangat fatal."
Ia juga menyebut mereka yang bekerja di Anthropic sebagai "orang-orang gila sayap kiri" dan mengatakan "keegoisan mereka membahayakan nyawa warga AS dan keamanan nasional".
Menurut pemimpin Partai Republik, Anthropic melakukan kesalahan dengan mencoba menekan Pentagon.
Anthropic Balik Melawan
Anthropic berencana untuk menantang keputusan pemerintahan Trump yang menyebutnya sebagai "risiko rantai pasokan" di pengadilan. Perlawanan Anthropic menjadikannya salah satu dari sedikit perusahaan yang secara langsung melakukannya pada masa jabatan kedua Presiden AS.
Dalam sebuah pernyataan, Anthropic mengatakan "tidak ada intimidasi atau hukuman apa pun dari DoD" yang akan mengubah posisi mereka mengenai pengawasan domestik massal atau senjata otonom sepenuhnya.
"Kami akan menantang penetapan risiko rantai pasokan apa pun di pengadilan," katanya.
Anthropic menjelaskan bahwa penetapan risiko rantai pasokan oleh Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth hanya akan berlaku untuk penggunaan Claude dalam kontrak DoD. Operasi lainnya dikatakan tidak terpengaruh.
"Kami percaya penetapan ini secara hukum tidak sah dan akan menjadi preseden berbahaya bagi perusahaan AS mana pun yang bernegosiasi dengan pemerintah," katanya.
(fab/fab)
Addsource on Google


















































