Tokoh Lintas Agama Bersama Ribuan Santri Kirim Doa untuk Sumatra

18 hours ago 2

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Enam tokoh lintas agama bersama ribuan santri dan santriwati melantunkan doa bersama dalam acara "Doa untuk Sumatra, Doa untuk Indonesia" yang digelar Matahari Pagi Indonesia (MPI) di Grand Ballroom Minhajurrosyidin, Jakarta Timur, Jumat (9/1/2026) malam. Kegiatan ini menjadi simbol persatuan nasional dan kesetiakawanan sosial di tengah duka akibat bencana yang melanda sejumlah wilayah di Sumatra.

Ketua Majelis Pertimbangan Pengurus Besar (PB) MPI, Dahnil Anzar Simanjuntak menegaskan, doa dan sholawat merupakan bentuk empati sekaligus kekuatan spiritual bangsa yang tidak boleh diremehkan. Menurutnya, di tengah musibah, doa menjadi jalan untuk mengetuk kesadaran kolektif bangsa agar tetap bersatu.

“Malam hari ini kita mengekspresikan simpati kita itu melalui doa melalui sholawat. Oleh sebab itu perhatian kita juga kita ungkapkan melalui doa-doa dan mudah-mudahan doa itu menembus Arsy,” ujar Dahnil dalam sambutannya.

Ia menambahkan, agenda doa bersama ini diharapkan mampu meneguhkan komitmen bersama untuk terus menghadirkan perbaikan dan kebaikan bagi seluruh rakyat Indonesia, khususnya saudara-saudara yang tengah terdampak bencana di Sumatra.

Dalam kesempatan tersebut, Dahnil juga menyoroti pentingnya persatuan nasional yang menjadi spirit kepemimpinan Presiden RI Prabowo Subianto. Ia menyebut Presiden Prabowo sebagai sosok Soekarnois sejati yang konsisten merawat persatuan sebagai fondasi utama Indonesia.

“Pak Prabowo itu sesungguhnya adalah Soekarnois sejati, pengagum Soekarno sejati. Bung Karno itu sangat gandrung dengan persatuan,” ucapnya.

Menurut Dahnil, persatuan tidak berarti meniadakan perbedaan. Perbedaan pendapat tetap harus dirawat sebagai bagian dari demokrasi, namun diharmonisasikan, terutama saat bangsa menghadapi bencana.

“Dalam situasi bencana, tidak ada waktunya saling menegasikan. Ini saatnya ta’awun, gotong royong, dan kesetiakawanan sosial,” katanya.

Di acara yang sama, Anggota Pembina PB MPI, Mohammad Yusuf Hamka atau Baba Alun menegaskan bahwa persatuan sejati adalah Indonesia tanpa sekat primordial, tanpa label mayoritas dan minoritas.

“Jangan lagi ada non pribumi, jangan lagi ada muslim, jangan lagi ada non muslim, We are Indonesia,” ujarnya.

Dalam sambutannya, ia pun mengajak masyarakat untuk tidak larut dalam saling menyalahkan di tengah bencana, melainkan memperkuat empati dan gotong royong.

“Kalau kita bisa bantu satu sendok gula, kita bantu. Kalau kita tidak bisa membantu, kita bantu doa saja. Kalau doa pun kita gak mau, udah diem aja gak usah ngomel gitu kan,” ucapnya.

Selain doa bersama, ribuan santri Minhajurrosyidin juga melantunkan sholawat bersama yang dipimpin oleh Haddad Alwi. Tidak hanya itu, para santri juga sempat melakukan prosesi pengibaran bendera merah putih raksasa di dalam ruangan sembari diiringi lagu "Rayuan Pulau Kelapa" karya Ismail Marzuki.

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|