Harianjogja.com, JAKARTA—Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali mengangkat isu Greenland dengan menegaskan ambisinya agar wilayah otonom milik Denmark itu dapat berada di bawah kendali AS, namun ia menyatakan tidak akan menggunakan kekuatan militer untuk mewujudkan keinginannya tersebut.
Dalam pidatonya di Forum Ekonomi Dunia (World Economic Forum/WEF) di Davos, Swiss, Rabu (21/1/2025), Trump menyampaikan pandangannya bahwa banyak negara saat ini sangat bergantung pada Amerika Serikat dalam menjaga perdamaian dan kemakmuran global. Ia mengklaim kebijakan luar negeri dan ekonomi AS sejak kembali menjabat setahun lalu telah mempertahankan reputasi tersebut.
Trump kembali menekankan bahwa keinginannya mengakuisisi Greenland didorong oleh pertimbangan keamanan nasional, terutama di tengah meningkatnya pengaruh China dan Rusia di kawasan strategis tersebut. Meski demikian, ia menepis spekulasi bahwa AS akan menempuh jalan kekerasan untuk mencapai tujuan tersebut.
“Kami mungkin tak akan mendapatkan apa pun kecuali saya memutuskan untuk menggunakan kekuatan dan tekanan berlebihan, yang sejujurnya tak akan bisa kami hentikan,” kata Trump.
“Namun, saya tak akan melakukan itu. Sekarang semua orang berkata, ‘Oh, bagus.’ Itu mungkin pernyataan terbesar yang saya buat, karena orang-orang mengira saya akan menggunakan kekuatan.”
Trump kembali menegaskan penolakannya terhadap opsi militer, sembari melontarkan kritik kepada negara-negara Eropa yang menentang ambisi AS atas Greenland.
“Saya tak harus menggunakan kekuatan. Saya tidak ingin menggunakan kekuatan. Saya tidak akan menggunakan kekuatan,” kata Trump.
Dalam kesempatan yang sama, Trump juga mendesak NATO agar membuka ruang bagi Amerika Serikat untuk melakukan “negosiasi segera” terkait rencana pencaplokan pulau terbesar di dunia tersebut.
Pidato Trump di Davos berlangsung panjang dan tidak hanya menyinggung isu geopolitik. Ia juga memuji kinerjanya sendiri di bidang ekonomi dan perdagangan, dengan mengklaim telah menghasilkan “kesepakatan perdagangan bersejarah” bersama Jepang, negara-negara Eropa, serta Korea Selatan. Menurutnya, kesepakatan tersebut turut mendorong kenaikan pasar saham dan pertumbuhan ekonomi.
Trump menyatakan dampak kebijakan tersebut tidak hanya dirasakan di Amerika Serikat.
“Tetapi juga di hampir setiap negara yang datang untuk membuat kesepakatan karena, seperti yang Anda ketahui, ketika Amerika Serikat naik, Anda akan mengikuti. Itu benar-benar telah menjadi pola,” ujarnya.
Dalam sesi tanya jawab setelah pidato, Trump turut menyinggung hubungannya dengan para pemimpin dunia. Ia menyebut memiliki “hubungan yang sangat baik” dengan Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden China Xi Jinping, yang ia sebut sebagai “pria luar biasa”.
Ketika ditanya mengenai masa depan hubungan Amerika Serikat dan China, Trump kembali memuji Xi Jinping.
“Apa yang telah ia lakukan sungguh menakjubkan. Ia sangat dihormati oleh semua orang,” kata Trump.


















































