REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Ibadah puasa Ramadhan (siyam) bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, melainkan memiliki tujuan besar membentuk manusia yang bertakwa. Dalam Alquran ditegaskan, la’allakum tattaqun, agar manusia mencapai derajat takwa melalui proses pembinaan spiritual yang utuh, mulai dari keimanan yang kuat, ketaatan yang konsisten, hingga keikhlasan dalam beribadah. Lebih dari itu, puasa juga mendidik manusia menjadi pribadi yang pandai bersyukur dan semakin cerdas dalam menyikapi kehidupan, sehingga tidak terjebak pada kecintaan berlebihan terhadap dunia.
Ketua Umum Pengurus Besar Al Jam’iyatul Washliyah (PB Al Washliyah), KH Masyhuril Khamis menyampaikan tujuan diwajibkan Siyam dengan tegas mencakup, peretama, taqwa, La’allakum Tattaqun. Untuk mencapai Taqwa itu diperlukan iman yang haqiqi, Islam yaitu menyerahkan diri, patuh dan taat dalam menunaikan rukun Islam secara konsisten dan memaknai ajarannya dengan istiqomah, dan ihsan berbuat baik bagi dirinya, lingkungan, makhluk lainnya sebagai wujud kecintaannya kepada Allah SWT, serta ikhlas di mana hakikatnya bahwa kita adalah kasirnya Allah, semua milik Allah, sedangkan kita hanya sebagai pemakai sementara.
"Kedua, mendidik manusia pandai bersyukur, la’allakum tasykurun. Hakikat syukur adalah pandai menghargai akan sesuatu yang telah kita terima, pandai berterima kasih, kita wajib menyadari bahwa kita datang dari Allah dan kita pun kembali pada Allah, apa yang ada pada diri kita semua milik Allah," kata Kiai Masyhuril saat bertindak sebagai imam dan khatib Sholat Idul Fitri 1447 H pada 1 Syawal 1447 di Badan Intelijen Negara (BIN) Jakarta.
Kiai Masyhuril menambahkan, oleh karenanya kita wajib mengelolanya sesuai dengan aturan Allah, bila kita kelola dengan aturan Allah nikmat itu ditambahi, tapi bila kita kelola tanpa aturan Allah atau melenceng dari Allah, maka tunggulah siksanya sangat dahsyat sekali, masihkan kurang berbagi bencana yang ada?
Ketiga, mendidik agar kita semakin cerdas, laállahum yarsyuduun. Rasulullah SAW pernah bertanya pada sahabat, bagaimana sikap kalian nanti jika sekiranya telah terbukanya pembendaharaan Roma Parsi, sahabat menjawab, bahwa mereka akan tetap memegang agama yang asli, Rasul tersenyum kecut, sambil bersabda bahwa pada waktu itu kamu akan berkelahi sesamamu, berpecah belah, setengah yang lain memusuhi yang lain, padahal jumlah umat Islam itu banyak sekali, tapi nasibnya seperti buih di tengah lautan, lemah kamu akan hancur laksana hancurnya kayu dimakan anai-anai.
Sahabat bertanya, "Apa penyebabnya ya Rasulullah?" Rasulullah menjawab, "Karena ketika itu hatimu telah terpaut pada dunia (kebendaan), dan kamu takut menghadapi maut (jihad) dan perjuangan."
Rasulullah SAW bersabda, "Orang cerdas (Al Kayyisy) adalah orang yang selalu menilai dirinya dan beramal apa yang dinikmati setelah kematiannya, sedangkan orang lemah adalah siapa saja yang dirinya mengikutkan hawa nafsunya lalu ia berangan angan terhadap Allah." (HR Imam Ahmad)

3 hours ago
1














































