
UGM melalui Tim PKM-PM Tumandur mengembangkan inovasi pengolahan sampah organik rumah tangga berbasis Smart Compost Vessel di Kampung Jurugsari, Condongcatur, Sleman. (doc istimewa)
Harianjogja.com, SLEMAN— Universitas Gadjah Mada (UGM) terus mendorong inovasi berbasis lingkungan melalui program pengabdian masyarakat. Kali ini, tim mahasiswa mengembangkan teknologi pengolahan sampah organik rumah tangga berbasis Smart Compost Vessel di Kampung Jurugsari, Condongcatur, Sleman.
Inovasi ini dirancang untuk membantu warga mengelola limbah organik menjadi pupuk organik cair (liquid biofertilizer) yang dapat dimanfaatkan untuk menyuburkan tanaman di pekarangan rumah. Selain mengurangi volume sampah, program ini juga membuka peluang peningkatan ketahanan pangan keluarga.
Program tersebut dijalankan oleh Tim Program Kreativitas Mahasiswa Pengabdian kepada Masyarakat (PKM-PM) Tumandur yang terdiri dari Siti Nur Khasanah, Rayhan Arva Pradipa, Nafi’atush Sholikhah, Vina Ayu Lestari, dan Naafianda Ra’uuf Prastya, di bawah bimbingan Miftahush Shirothul Haq dari Fakultas Peternakan UGM.
Smart Compost Vessel yang dikembangkan berupa komposter ember bertingkat yang dilengkapi sensor suhu dan pH. Teknologi sederhana ini memungkinkan masyarakat memantau proses pengomposan secara lebih terukur sehingga kualitas pupuk cair yang dihasilkan tetap optimal.
Pupuk organik cair tersebut kemudian dimanfaatkan untuk budidaya tanaman pangan di pekarangan rumah, seperti sayuran dan tanaman hortikultura lainnya. Dengan demikian, limbah organik rumah tangga tidak lagi menjadi masalah, melainkan sumber daya yang bernilai guna.
Dosen pembimbing, Miftahush Shirothul Haq, berharap inovasi ini dapat menjadi solusi praktis yang mudah diterapkan masyarakat luas.
“Kami berharap inovasi ini tidak hanya berhenti pada pengolahan sampah, tetapi juga mampu mendorong kemandirian masyarakat dalam membangun ketahanan pangan keluarga melalui pemanfaatan pekarangan rumah,” ujarnya.
Ketua tim PKM-PM, Siti Nur Khasanah, menambahkan bahwa program ini mengedepankan pendekatan partisipatif antara mahasiswa dan warga. Selain pelatihan pengolahan sampah, masyarakat juga didampingi dalam pemanfaatan pupuk cair untuk kegiatan bercocok tanam.
Menurutnya, perubahan pola pikir masyarakat menjadi kunci keberhasilan program. Sampah organik harus dipandang sebagai sumber daya yang dapat diolah kembali, bukan sekadar limbah.
“Kami ingin masyarakat melihat bahwa sampah organik memiliki nilai manfaat dan dapat mendukung kebutuhan keluarga,” katanya.
Program ini mendapat respons positif dari masyarakat setempat. Ketua PKK Kampung Jurugsari, Ikhwani, mengapresiasi kesiapan tim mahasiswa dalam melakukan sosialisasi dan pendampingan sehingga mudah dipahami warga.
Dukuh Joho, Retnaningsih, juga menilai inovasi ini berpotensi dikembangkan lebih luas sebagai bagian dari sistem pengelolaan lingkungan berbasis masyarakat. Pemerintah Kalurahan Condongcatur pun menyatakan dukungannya terhadap keberlanjutan program ini.
Dengan pendekatan sederhana namun inovatif, program ini diharapkan mampu menciptakan sistem pengelolaan sampah yang berkelanjutan sekaligus meningkatkan kualitas hidup masyarakat di tingkat keluarga.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Abdul Hamied Razak Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online


















































