Foto Ilustrasi. - Ist/Freepik
Harianjogja.com, JAKARTA— Kasus balita berusia 1,5 tahun yang mengalami hipotermia saat diajak mendaki Gunung Ungaran menjadi sorotan setelah videonya viral di media sosial. Kondisi anak yang mengalami penurunan suhu tubuh di tengah cuaca dingin pegunungan memicu perhatian luas terkait keselamatan anak dalam aktivitas ekstrem.
Peristiwa tersebut terjadi saat satu keluarga mendaki hingga puncak Bondolan di Gunung Ungaran. Hujan yang turun di lokasi membuat suhu tubuh balita menurun drastis hingga menunjukkan gejala hipotermia, sebelum akhirnya mendapatkan penanganan darurat dari tim SAR gabungan pada Sabtu (11/4/2026).
Video kejadian yang diunggah akun Instagram @kabaruangaran memperlihatkan kondisi balita yang membutuhkan pertolongan cepat. Tim dari Kantor Pencarian dan Pertolongan Kelas A Semarang langsung melakukan penanganan awal dengan menghangatkan tubuh korban serta melindunginya dari paparan cuaca dingin.
Setelah kondisinya mulai stabil, balita tersebut dievakuasi ke Basecamp Perantunan untuk mendapatkan penanganan lanjutan. Korban berhasil dievakuasi dalam kondisi sadar dan kemudian diserahkan kembali kepada keluarganya.
Menanggapi kejadian ini, Ikatan Dokter Anak Indonesia menegaskan bahwa anak, terutama balita, memiliki risiko tinggi mengalami hipotermia dibandingkan orang dewasa. Faktor suhu dingin, hujan, serta durasi paparan di alam terbuka menjadi kombinasi berbahaya bagi tubuh anak.
Ketua Pengurus Pusat IDAI, Piprim Basarah Yanuarso, menekankan pentingnya prinsip keselamatan dalam setiap aktivitas anak. “Dari sisi anak itu kan kita pertama safety first ya. Anak-anak itu, apalagi usia satu setengah tahun, sangat mudah kehilangan panas dibanding dewasa, apalagi kalau naik gunung jaraknya jauh, ada potensi hujan, dan evakuasinya lama, ini harus dipikirkan sebelumnya,” ujarnya di Hotel Sangri-La, Jakarta Pusat, Senin (13/4/2026).
Ia menilai aktivitas pendakian gunung bagi balita tidak direkomendasikan karena berisiko tinggi. Orang tua disarankan memilih aktivitas yang lebih aman dan mudah dijangkau jika ingin mengenalkan anak pada alam.
“Lebih aman kalau mengajak batita atau balita ke alam itu jangan yang ekstrem seperti gunung tinggi, mungkin sekadar hiking ringan, yang mudah diakses untuk evakuasi dan cuacanya tidak ekstrem,” jelasnya.
Senada, Ketua Unit Kerja Koordinasi Emergensi dan Terapi Intensif Anak IDAI, Yogi Prawira, menegaskan bahwa tubuh anak tidak bisa disamakan dengan orang dewasa. Anak lebih cepat kehilangan cairan dan panas tubuh, sehingga lebih rentan dalam kondisi lingkungan ekstrem.
“Anak itu bukan dewasa kecil, jadi jangan diasumsikan sama tahan dengan orang tua. Anak lebih mudah kehilangan cairan dan panas, apalagi saat bernapas frekuensinya lebih tinggi,” katanya.
Dalam kondisi darurat seperti hipotermia, ia menyarankan penanganan awal yang bisa dilakukan orang tua, seperti menjaga tubuh anak tetap hangat, memastikan pakaian kering, hingga metode skin to skin untuk membantu meningkatkan suhu tubuh.
IDAI juga mengingatkan sejumlah hal penting bagi orang tua sebelum mengajak anak beraktivitas di alam terbuka, di antaranya menghindari kegiatan ekstrem seperti pendakian gunung tinggi, memilih jalur yang aman, memperhatikan kondisi cuaca, serta memastikan anak tetap hangat dan terhidrasi dengan baik.
Peristiwa di Gunung Ungaran ini menjadi pengingat bahwa aktivitas luar ruang memerlukan perencanaan matang, terutama jika melibatkan anak-anak yang memiliki keterbatasan dalam menghadapi kondisi alam yang ekstrem.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia


















































