Pengungsi Palestina berebut makanan berbuka puasa yang didistribusikan oleh dapur amal selama bulan suci Ramadhan, di Khan Younis, Jalur Gaza selatan. (ilustrasi)
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — World Health Organization (WHO) memperingatkan krisis pasokan medis yang semakin parah di Jalur Gaza akibat terbatasnya akses masuk bantuan kemanusiaan ke wilayah tersebut.
Direktur Regional WHO untuk Mediterania Timur Hanan Balkhy mengatakan, persediaan berbagai kebutuhan medis dasar di Gaza kini hampir habis. Beberapa perlengkapan penting seperti kain kasa dan jarum bahkan dilaporkan sudah tidak tersedia.
“Di Gaza, sistem kesehatan masih sangat rapuh. Persediaan obat-obatan penting, perlengkapan perawatan trauma, serta peralatan bedah sangat sedikit,” kata Balkhy, Jumat (6/3/2026).
Ia menambahkan krisis bahan bakar juga semakin memperburuk kondisi karena membatasi kapasitas operasional rumah sakit di wilayah tersebut.
Balkhy memperingatkan bahwa tanpa akses kemanusiaan yang konsisten—termasuk pengiriman pasokan medis yang aman serta dimulainya kembali evakuasi medis—pasien di Gaza akan terus menghadapi penundaan pengobatan yang dapat mengancam jiwa.
Menurutnya, WHO sempat berhasil mengirimkan sejumlah pasokan medis dan bahan bakar ke Gaza pada Selasa dan Rabu. Namun sebagian truk bantuan masih tertahan di Kota El Arish, Mesir.
Ia menjelaskan jumlah truk bantuan yang masuk ke Gaza saat ini tidak lebih dari 200 unit per hari. Padahal, wilayah tersebut diperkirakan membutuhkan setidaknya 600 truk bantuan setiap hari untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.
WHO juga mendesak agar lebih banyak bahan bakar diizinkan masuk agar rumah sakit yang masih beroperasi dapat tetap memberikan layanan kesehatan.
Dari total 36 rumah sakit di Gaza, sekitar separuhnya masih tutup sejak awal gencatan senjata. Sementara fasilitas kesehatan yang masih beroperasi harus berjuang keras untuk mempertahankan layanan vital seperti operasi, dialisis, dan perawatan intensif.
Situasi semakin sulit karena Penyeberangan Rafah—jalur utama keluar masuk warga Gaza—masih ditutup. Akibatnya, proses evakuasi medis juga ikut tertangguh.
Berdasarkan data WHO, sekitar 18.000 orang, termasuk anak-anak yang terluka dan pasien penyakit kronis, saat ini masih menunggu evakuasi medis untuk mendapatkan perawatan yang memadai.
sumber : Antara

3 hours ago
2















































