
Pesepak bola Swedia Victor Nilsson Lindelof (kanan) berebut bola dengan pesepakbola Jepang Ritsu Doan (kiri) dalam pertandingan Grup F Piala Dunia FIFA 2026 di Stadion Dallas, Dallas, Amerika Serikat, Kamis (25/6/2026) waktu setempat. Swedia bermain imbang 1-1 melawan Jepang. (ANTARA FOTO/Xinhua/Cheng Min/YU)
Harianjogja.com, JAKARTA— Duel Brasil melawan Jepang di babak 32 besar Piala Dunia 2026 diprediksi tidak lagi menjadi laga yang timpang. Legenda sepak bola Brasil, Zico, justru mengingatkan bahwa kekuatan Samurai Biru kini telah berkembang pesat dan layak diwaspadai.
Menurut Zico, transformasi sepak bola Jepang dalam dua dekade terakhir membuat mereka sejajar dengan tim-tim besar dunia. Salah satu faktor kunci adalah banyaknya pemain Jepang yang kini berkarier di kompetisi Eropa, mengikuti jejak pemain Amerika Selatan, termasuk Brasil.
“Jepang sekarang jauh lebih kompetitif. Banyak pemain mereka bermain di Eropa, seperti yang dulu dilakukan pemain Brasil,” ujarnya, dikutip dari FIFA, Sabtu (27/6/2026).
Perubahan Generasi yang Mengubah Peta Kekuatan
Zico bukan sosok asing bagi sepak bola Jepang. Setelah mengakhiri karier bermainnya di klub Jepang, ia juga pernah melatih tim nasional Jepang pada periode 2002 hingga 2006. Pengalamannya tersebut membuatnya memahami betul perkembangan sepak bola Negeri Sakura.
Ia membandingkan kekuatan Jepang saat ini dengan era Piala Dunia 2006, ketika Jepang yang dilatihnya harus mengakui keunggulan Brasil dengan skor 1-4 di fase grup. Kini, menurutnya, situasi telah berubah drastis.
Generasi baru Jepang tampil lebih disiplin, cepat, dan memiliki pengalaman internasional yang lebih matang. Hal ini membuat mereka tidak lagi sekadar menjadi pelengkap dalam turnamen besar.
Rekor Masih Milik Brasil, Tapi...
Secara historis, Brasil masih mendominasi pertemuan kedua tim. Dari 14 laga sebelumnya sejak 1989, Brasil mencatatkan lebih banyak kemenangan. Namun, satu fakta penting menjadi perhatian: Jepang mampu memenangi pertemuan terakhir pada Oktober tahun lalu dengan skor 3-2.
Hasil tersebut menjadi sinyal bahwa kesenjangan kualitas antara kedua tim semakin menipis. Jepang tidak hanya mampu bersaing, tetapi juga bisa mengalahkan tim sekelas Brasil.
Laga Sarat Emosi bagi Zico
Pertemuan Jepang dan Brasil selalu memiliki makna emosional bagi Zico. Pada Piala Dunia 2006, ia bahkan berada di posisi unik sebagai pelatih Jepang saat menghadapi negara kelahirannya.
“Saya tetap menyanyikan lagu kebangsaan Brasil, tetapi saat pertandingan dimulai, saya sepenuhnya mendukung Jepang,” kenangnya.
Kini, menjelang pertemuan di Piala Dunia 2026, Zico tetap menjagokan Brasil. Namun, ia tidak menutup kemungkinan Jepang menciptakan kejutan.
“Saya orang Brasil, tentu mendukung Brasil. Tapi jika Jepang menang, itu hal yang wajar. Yang jelas, ini akan menjadi pertandingan hebat,” katanya.
Dengan perkembangan yang ada, duel di Stadion Houston, Amerika Serikat, Selasa (30/6) dini hari WIB diperkirakan berlangsung ketat. Brasil mungkin masih diunggulkan, tetapi Jepang datang dengan kepercayaan diri dan kualitas yang tidak bisa lagi dipandang sebelah mata.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Abdul Hamied Razak Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online


















































