Banjarmasin Targetkan Nol WC "Nyemplung" Sungai

1 hour ago 1

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kesehatan lingkungan yang berkelanjutan berawal dari hal mendasar yang seringkali terabaikan: WC dan sanitasi yang layak. Akses terhadap fasilitas sanitasi dasar bukan sekadar penanda kemajuan peradaban, tetapi merupakan fondasi utama dalam pencegahan stunting, penekanan angka penyakit menular seperti diare dan kolera, serta penjamin kualitas air sungai yang menjadi sumber kehidupan masyarakat urban, terutama di kota-kota berbasis perairan.

Di Kota Banjarmasin, yang identitasnya sangat lekat dengan kehidupan di bantaran sungai, urgensi sanitasi menjadi sangat krusial. Pemerintah Kota Banjarmasin merespons tantangan ini dengan program masif pembangunan puluhan unit WC sehat bagi warga miskin, utamanya yang bermukim tepat di pinggir sungai. Program ini dirancang sebagai upaya sistemik untuk melestarikan lingkungan sungai sekaligus mendukung gerakan Open Defecation Free (ODF) atau Stop Buang Air Besar Sembarangan (BABS) di seluruh kelurahan.

Bagi warga kurang mampu di kawasan padat penduduk pinggir sungai, kepemilikan fasilitas WC pribadi seringkali terhalang oleh keterbatasan finansial dan lahan. Mereka kesulitan membangun tangki septik yang sesuai standar kesehatan karena biaya yang mahal dan sempitnya lahan di bantaran sungai, sehingga pilihan "jamban apung" atau WC yang langsung membuang limbah ke sungai menjadi solusi instan yang terus berlangsung secara turun-temurun.

Kondisi ekonomi memaksa warga memprioritaskan kebutuhan primer lain seperti pangan, mengesampingkan investasi jangka panjang untuk sanitasi yang sehat. Oleh karena itu, skema bantuan WC sehat komunal dari pemerintah menjadi intervensi krusial yang menjembatani kesenjangan akses, memastikan bahwa setiap warga, tanpa terkecuali, memiliki hak dasar atas sanitasi yang manusiawi.

Kepala Dinas Perumahan dan Kawasan Pemukiman Kota Banjarmasin, Chandra Iriandy, menyampaikan bahwa pada APBD 2026 ini, diprogramkan sebanyak 80 unit WC sehat yang akan dibangun di beberapa titik di lima kecamatan. Sistem yang digunakan adalah komunal, di mana pengelolaan limbahnya terpusat, sehingga tidak ada lagi limbah yang langsung mencemari ekosistem sungai.

Dampak dari tidak adanya lagi WC yang "nyemplung" langsung ke sungai sangatlah signifikan bagi kebersihan lingkungan. Kualitas air sungai meningkat drastis, mengurangi kontaminasi bakteri E. coli dan risiko penyebaran penyakit berbasis air. Lingkungan yang lebih bersih secara langsung berdampak pada peningkatan kesehatan publik di Banjarmasin, memperkuat pondasi kota ini menuju predikat Kota Sehat yang berkelanjutan.

Infeksi bakteri E. coli (khususnya galur berbahaya seperti EHEC) jika masuk ke tubuh manusia melalui air atau makanan yang terkontaminasi dapat menyebabkan gangguan pencernaan hebat yang disertai gejala kram perut ekstrem, diare parah yang seringkali bercampur darah, hingga muntah-muntah. Kondisi ini terjadi karena bakteri melepaskan racun yang merusak lapisan usus halus, sehingga tubuh kehilangan cairan secara drastis dalam waktu singkat yang dapat berujung pada dehidrasi berat jika tidak segera ditangani secara medis.

sumber : Antara

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|