Barahmus DIY Targetkan Museum Rempah dan Keris Bergabung di 2026

7 hours ago 1

Harianjogja.com, JOGJA— Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) berpeluang menambah deretan museum baru dalam waktu dekat. Badan Musyawarah Musea DIY (Barahmus) menargetkan sedikitnya dua hingga tiga museum resmi bergabung dalam jaringan Barahmus pada 2026, seiring upaya memperkuat posisi Yogyakarta sebagai kota museum.

Ketua Barahmus DIY, Hajar Pamadhi, mengungkapkan saat ini terdapat sejumlah museum yang masih dalam tahap penataan dan verifikasi. Dari berbagai usulan yang masuk, museum rempah-rempah, museum keris, serta museum kebudayaan dinilai paling siap untuk segera diresmikan masuk jaringan Barahmus.

“Yang kemungkinan tahun ini atau menuju 2026 itu dua atau tiga. Museum rempah, museum keris, dan satu lagi museum budaya. Itu yang relatif sudah bisa masuk,” ujar Hajar, Jumat (27/2/2026).

Ia menegaskan, penambahan museum tidak hanya berorientasi pada kuantitas, tetapi juga penguatan identitas DIY. Museum diposisikan sebagai landmark kota sekaligus pintu masuk untuk memahami Yogyakarta sebagai kota pendidikan dan kota budaya.

Saat ini, DIY tercatat memiliki sekitar 48 museum. Jumlah tersebut hampir menyamai Jakarta yang memiliki sekitar 51 museum, meskipun wilayahnya jauh lebih luas. Kondisi ini menjadikan Yogyakarta sebagai daerah dengan kepadatan museum tertinggi di Indonesia.

“Jogja ini kota kecil, tapi museumnya luar biasa banyak. Bahkan dibandingkan Jakarta, kita hampir menyamai jumlahnya,” katanya.

Selain penambahan museum di wilayah perkotaan, Barahmus juga mendorong pengembangan museum di kawasan Gunungkidul dan Kulon Progo. Potensi museum karst di Gunungkidul serta museum kebudayaan di Kulon Progo dinilai sangat kuat, namun belum sepenuhnya tergarap.

Barahmus juga tengah menyusun standar berjenjang bagi museum, mulai dari standar nasional dan internasional, standar Barahmus, hingga museum yang tergabung dalam forum komunikasi kabupaten dan kota. Skema ini diharapkan memberi ruang pembinaan bagi museum koleksi pribadi agar tetap diakui meski belum memenuhi seluruh standar nasional.

“Banyak museum kita itu koleksi pribadi. Kalau langsung pakai standar negara, berat sekali. Makanya dibuat bertahap, yang penting koleksinya jelas, tertata, dan tercatat,” ujarnya.

Ke depan, Barahmus merancang program peningkatan kualitas museum melalui konsep museum quality, mencakup standar koleksi, penataan ruang, pengelolaan, hingga fungsi edukasi. Selain itu, peta museum Yogyakarta juga tengah disiapkan untuk memudahkan akses publik dan wisatawan.

Menurut Hajar, penguatan museum akan berdampak luas, mulai dari sektor pendidikan, pariwisata berkualitas, hingga penggerak ekonomi lokal melalui UMKM di sekitar museum. Karena itu, Barahmus mendorong adanya regulasi daerah yang lebih kuat untuk menjamin pengelolaan museum, termasuk perlindungan dan kesejahteraan tenaga profesional.

“Museum itu bukan sekadar tempat memajang barang. Ada edukator, kurator, dan tenaga profesional dengan keilmuan khusus. Mereka perlu mendapat perhatian melalui regulasi,” katanya.

Dengan berbagai langkah tersebut, Barahmus optimistis Yogyakarta tidak hanya dikenal sebagai kota wisata, tetapi juga sebagai kota museum yang hidup, berkelanjutan, dan berkualitas.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|