REPUBLIKA.CO.ID,BEKASI -- Ada kampus yang terasa seperti halte. Datang, duduk sebentar, dengar pengumuman, lalu pergi. Kuliah selesai, hidup lanjut. Namun, ada juga kampus yang rasanya seperti bengkel tempat kamu dibongkar pelan-pelan, diuji, dikencangkan ulang, lalu dilepas ke jalan dengan mesin mental yang lebih siap. Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) Kampus Cikarang memilih peran kedua.
Di kawasan industri yang tiap paginya dipenuhi suara mesin dan klakson truk, mahasiswa UBSI Kampus Cikarang datang dengan cerita masing-masing. Ada yang berangkat kuliah setelah shift kerja. Ada yang masih menyimpan ragu, apakah kuliah benar-benar bisa mengubah nasib.
Ada juga yang sekadar ingin mencoba bertahan satu semester dulu. Tidak semua datang dengan keyakinan utuh. Tapi hampir semuanya pulang dengan sesuatu yang berubah.
Di sini, kuliah bukan cuma soal duduk manis dan mencatat slide. Teori tidak dibiarkan hidup sendirian. Ia dipaksa turun ke lapangan, diuji lewat praktik, dibenturkan dengan realitas industri yang tidak selalu ramah.
Digital marketing tidak berhenti di definisi. Data analysis tidak sekadar grafik. Desain kreatif tidak hanya soal estetika. Semua ditarik ke satu pertanyaan sederhana tapi melelahkan: ini bisa dipakai atau tidak di dunia nyata.
Mungkin itu sebabnya banyak mahasiswa merasa atmosfer belajarnya terasa “real”. Ada lelah yang masuk akal. Ada gagal yang tidak ditertawakan.
Ada proses jatuh-bangun yang dianggap wajar. Di situ, kata tangguh pelan-pelan kehilangan makna slogan. Ia berubah menjadi kebiasaan. Bangkit lagi. Coba lagi. Perbaiki lagi.
UBSI Kampus Cikarang yang dikenal sebagai Kampus Digital Kreatif juga tidak terlalu sibuk mencetak mahasiswa pintar di atas kertas saja. Kampus ini tampak lebih tertarik membentuk manusia yang bisa berdiri di tengah perubahan tanpa panik.
Etika, kepercayaan diri, dan kemampuan bekerja sama diperlakukan sama pentingnya dengan IPK. Barangkali karena dunia kerja tidak pernah menanyakan nilai mata kuliah secara detail, tapi sangat peduli pada sikap dan cara bertahan di tekanan.
Dalam suasana seperti itu, kolaborasi tumbuh dengan sendirinya. Mahasiswa saling menguatkan, berbagi ide, dan kadang berbagi kegagalan. Mereka bukan sekadar teman sekelas, tapi sesama pejuang yang sama-sama sedang mencari bentuk.
Nurul Ichsan, Kepala Kampus UBSI Kampus Cikarang, pernah menyederhanakan semua filosofi itu dalam satu kalimat yang terasa jujur. Bahwa kampus ini tidak ingin hanya melahirkan orang pintar, tapi manusia yang kuat menghadapi realitas.
Kalimat yang terdengar sederhana, tapi diam-diam berat. Karena realitas tidak pernah bisa dihadapi dengan hafalan saja.
“Di UBSI Kampus Cikarang, gelar bukan tujuan akhir. Ia hanya tiket masuk. Yang benar-benar dibangun adalah mental juang, sesuatu yang tidak habis setelah wisuda. Mahasiswa datang membawa mimpi yang belum rapi. Mereka pulang dengan keyakinan mimpi itu layak diperjuangkan, meski jalannya tidak selalu lurus,” pungkas Ichsan,dalam keterangan Senin (12/1/2026).
Pada akhirnya, kampus ini bukan sekadar tempat belajar. Ia menjadi ruang menemukan jati diri. Tempat seseorang sadar bahwa menjadi tangguh bukan bakat bawaan, melainkan hasil dari proses panjang yang dijalani dengan hati.
Dan mungkin, itu bekal paling penting untuk bertahan di dunia yang tidak pernah benar-benar ramah, tapi selalu menantang untuk ditaklukkan.

3 hours ago
1







































