REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Serangan yang dilancarkan Israel dan Amerika Serikat (AS) ke Iran tidak hanya berkaitan dengan geopolitik, melainkan juga ekonomi global. Pakar ekonomi politik internasional dari Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Prof Muhammad Faris Al-Fadhat, mengingatkan, dampak operasi militer tersebut akan signifikan bagi pasar energi dunia.
"Kita harus melihat dari sudut pandang yang lebih luas, bahwa ada perebutan sumber-sumber ekonomi yang jauh lebih besar sebenarnya daripada hanya sekadar menyerang Iran karena Iran dianggapnya (Israel-AS) sebagai musuh politiknya. Yang sebenarnya adalah, ada perebutan energi di sini," ujar Faris Al-Fadhat kepada Republika, kemarin.
Pada Sabtu (28/2/2026) pagi, AS dan Israel melancarkan serangan udara gabungan ke sejumlah wilayah Iran. Agresi tanpa provokasi itu dilakukan setelah perundingan Washington dengan Teheran soal program nuklir Iran dilaporkan mengalami kebuntuan.
Faris menjelaskan, Iran adalah negara dengan cadangan minyak terbesar nomor tiga di dunia. Pada awal Januari 2026 lalu, AS pun menyerang negara dengan cadangan minyak terbesar sedunia, yakni Venezuela. Negara Amerika Latin ini memiliki cadangan minyak mentah terbukti hingga 300 miliar barel, mengalahkan Arab Saudi dan Iran.
"Kalau kita lihat, cadangannya (minyak mentah) itu antara 200 sampai 209 miliar barel yang ada di Iran ini. Dan, ini setara 12 persen dari total cadangan minyak di dunia," ungkap Faris.
Perang Israel-AS versus Iran pun akan berimbas bagi China, negara rival terbesar secara ekonomi bagi Washington. Konflik tersebut berpotensi menekan ekonomi Negeri Tirai Bambu melalui kenaikan harga energi. Sebab, jelas Faris, selama ini sekira 80 persen minyak Iran dibeli oleh Beijing.
"Kalau kita lihat dengan adanya serangan (Israel ke Iran) ini, kondisi ekonomi dunia terganggu dengan suplai minyak dari Iran. Kita akan lihat rentetannya ke China, dan beberapa negara lain. Jadi, supply chain ini akan sedikit terganggu sehingga ekonomi dunia akan sedikit terganggu," kata dia.
Karena itu, menurut Faris, dalam jangka panjang seragan ke Iran akan menguntungkan AS. Sebagaimana yang berhasil dilakukan Washington pada Caracas, penggulingan rezim menjadi tujuannya di Iran.
"Persis seperti di Venezuela. Perubahan rezim akan menguntungkan AS jangka panjang karena memudahkan akses ekonomi lebih dominan di Iran dan Timur Tengah secara umum," tukas dia.

3 days ago
11

















































