Dinkop-UKM Sleman Kaji Dampak Jalan Tol bagi UMKM

1 hour ago 4

Harianjogja.com, SLEMAN—Dinas Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (Dinkop-UKM) Kabupaten Sleman bersama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) tengah melakukan kajian mengenai dampak pembangunan jalan tol terhadap pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di wilayah tersebut.

Kajian tersebut dilakukan untuk memetakan berbagai peluang maupun tantangan yang mungkin muncul akibat pembangunan infrastruktur strategis tersebut, khususnya bagi pelaku UMKM dan masyarakat yang berada di kawasan sekitar jalur tol.

Kepala Bidang Usaha Mikro Dinkop-UKM Sleman, Sri Wara Nusandari, mengatakan penelitian masih berlangsung dan difokuskan pada dampak sosial ekonomi yang dirasakan masyarakat serta pelaku usaha, terutama di wilayah yang berdekatan dengan pembangunan jalan tol.

“Untuk yang tol kami sedang melakukan kajian bersama BRIN. Jadi efek adanya tol kepada masyarakat, kepada pelaku UMKM khususnya yang ada di Kapanewon Sleman baru melakukan kajian,” kata Sri Wara saat ditemui di kantornya, Kamis (6/8/2026).

Menurutnya, hasil kajian tersebut nantinya akan menjadi dasar bagi pemerintah daerah dalam menyusun kebijakan yang dapat membantu masyarakat memanfaatkan peluang ekonomi yang muncul sekaligus mengantisipasi dampak yang mungkin terjadi.

Exit Tol Dinilai Buka Peluang Ekonomi Baru

Sri Wara menjelaskan keberadaan jalan tol memiliki konsekuensi yang kompleks. Di satu sisi, jalan tol tidak memberikan akses langsung kepada masyarakat untuk membuka usaha di sepanjang jalurnya karena merupakan kawasan terbatas.

Namun di sisi lain, pembangunan jalan tol berpotensi menciptakan pusat-pusat aktivitas ekonomi baru, terutama di kawasan sekitar pintu keluar atau exit tol.

“Ada tol itu artinya kan tol itu tidak terbuka secara langsung untuk masyarakat sekitar. Tetapi di sisi lain nanti masyarakat yang di dekat exit tol itu bisa berusaha,” ujarnya.

Kawasan sekitar exit tol dinilai berpotensi berkembang menjadi lokasi usaha baru, mulai dari perdagangan, kuliner, jasa, hingga sektor pendukung lainnya yang melayani mobilitas masyarakat.

Jika dikelola dengan baik, peluang tersebut dapat dimanfaatkan warga untuk memperluas usaha maupun menciptakan sumber pendapatan baru.

Keberadaan akses transportasi yang lebih baik juga diyakini mampu memperluas jangkauan pasar bagi produk-produk UMKM sehingga memiliki kesempatan menjangkau konsumen yang lebih luas.

Dampak Sosial dan Harga Tanah Juga Dikaji

Selain peluang ekonomi, Dinkop-UKM Sleman juga mencermati berbagai dampak lain yang mungkin muncul akibat pembangunan jalan tol.

Salah satunya adalah perubahan nilai lahan dan harga tanah di kawasan yang berada di sekitar proyek infrastruktur tersebut.

Sri Wara menilai pembangunan jalan tol berpotensi memicu kenaikan nilai properti di sejumlah wilayah, termasuk daerah yang tidak terkena langsung pembangunan fisik jalan.

Karena itu, pemerintah daerah ingin memastikan seluruh dampak yang muncul dapat dipahami secara komprehensif sebelum menyusun langkah-langkah tindak lanjut.

“Di sisi lain, pembangunan tol juga bisa berdampak terhadap harga tanah di wilayah yang tidak terkena langsung pembangunan,” katanya.

Kajian tersebut diharapkan mampu memberikan gambaran menyeluruh mengenai perubahan ekonomi yang mungkin terjadi di masyarakat sebagai dampak pembangunan infrastruktur berskala besar tersebut.

Karakter UMKM Perkotaan dan Perdesaan Berbeda

Dalam kesempatan yang sama, Sri Wara menjelaskan bahwa karakteristik UMKM di Kabupaten Sleman memiliki perbedaan yang cukup mencolok antara wilayah perkotaan dan perdesaan.

Di kawasan perdesaan, sebagian besar UMKM masih berkaitan erat dengan sektor pertanian dan usaha berbasis sumber daya lokal.

Sementara itu, sektor perdagangan dan jasa lebih berkembang di kawasan perkotaan yang memiliki aktivitas ekonomi lebih dinamis.

“Memang sangat berbeda. Kalau di perdesaan mayoritas mereka memang pertanian. Untuk perdagangan memang mayoritas di perkotaan,” ujarnya.

Menurut Sri Wara, kondisi tersebut tidak terlepas dari karakter pasar di wilayah perkotaan yang lebih terbuka dan memiliki jumlah konsumen yang lebih besar.

Keberadaan mahasiswa, anak kos, pekerja, wisatawan, hingga pendatang dari berbagai daerah menciptakan permintaan yang tinggi terhadap berbagai jenis produk dan jasa.

Pendatang Dorong Pertumbuhan Wirausaha

Banyaknya penduduk nonpermanen yang tinggal di wilayah perkotaan Sleman juga menjadi salah satu faktor pendorong tumbuhnya usaha baru.

Sri Wara menuturkan tidak sedikit mahasiswa yang mengikuti pelatihan kewirausahaan yang diselenggarakan Dinkop-UKM kemudian memutuskan membuka usaha sendiri.

Fenomena tersebut menunjukkan bahwa ekosistem usaha di kawasan perkotaan memiliki daya tarik yang cukup kuat untuk mendorong lahirnya pelaku usaha baru.

Dengan adanya pembangunan jalan tol dan potensi pertumbuhan ekonomi di sekitar kawasan exit tol, pemerintah berharap peluang usaha dapat berkembang tidak hanya di pusat kota, tetapi juga menjangkau wilayah lain yang selama ini belum menjadi pusat aktivitas ekonomi.

Hasil kajian bersama BRIN nantinya diharapkan dapat menjadi landasan dalam merumuskan strategi pengembangan UMKM agar manfaat pembangunan infrastruktur dapat dirasakan lebih merata oleh masyarakat Sleman.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|