Cendekiawan muslim Prof. Din Syamsuddin dalam agenda Tanwir I Nasyiatul Aisyiyah yang digelar di Pontianak, Kalimantan Barat.
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Dewan Nasional Pergerakan Indonesia Maju (DN-PIM) dan Universitas Paramadina mengadakan Sarasehan Kebangsaan 01 pada Selasa (27/1/2026). Kegiatan itu membahas Pancasila dalam Asta Cita Presiden Prabowo Subianto.
Ketua Umum DN-PIM, Din Syamsuddin, menyebut organisasinya itu termasuk gerakan lintas agama, suku, profesi, dan gender sehingga mencerminkan keragaman Indonesia. Din mengklaim organisasinya punya anggota hingga pelosok.
"Asta cita pertama menajamkan ideologi. Bagi kami dan saya pribadi, pancasila diperdebatkan sebagai political statement atau ideological statement," kata Din dalam kegiatan itu Din meyakini Pancasila lahir sebagai philosophical foundation dan ideologi negara usai dicantumkan dalam Pembukaan UUD 1945. Pancasila lalu menghiasi kehidupan bangsa hingga ranah politik dan ekonominya.
Din memandang Pancasila sebagai jalan tengah atas ketuhanan, kemanusiaan, kerakyatan, persatuan, dan keadilan. Kehadiran Pancasila dinilai dapat menangkis paham kapitalisme maupun sosialisme lewat esensi kekeluargaan dan gotong royong.
"Ada yang memandang Pancasila jalan tengah... Pancasila mulai diakui dunia. Wakil Paus ke-16 sebut ideologi dunia paling relevan sekarang ini Pancasila," ujar Din.
Walau demikian, Din menyentil perubahan besar setela amandemen konstitusi. Kondisi ini dipandang membuka ruang kapitalisme dan demokrasi liberal hingga kian melenceng dari ruh kerakyatan.
"Kami ingin bedah Pancasila dalam kenyataannya. Karena dalam tataran politik sudah ada perubahan mendasar," ujar Din.
Sementara itu, Ketua Umum PGI Jackvelyn Manuputty menagih janji implementasi Pancasila. Jackvelyn mengingatkan Pancasila bukan hanya ideologi tapi janji kemanusiaan. "Janji agar manusia diperlakukan hormat dan bermartabat, janji persatuan tanpa meniadakan perbedaan," ujar Jackvelyn.
Jackvelyn memantau toleransi kadang retak dalam prasangka yang dibangun dan demokrasi sering kehilangan roh musyawarah. "Kita merasakannya dan kadang lelah membicarakannya. Tapi Pancasila jadu suara yang memanggil untuk bangkit. Kami perlu menghidupi Pancasila bukan sebagai teks yang diam, tapi dijalankan dan diperjuangkan," ujar Jackvelyn.

1 hour ago
3
















































