Pengunjuk rasa dari sayap perempuan Partai Buruh menuliskan kritik di papan pesan saat aksi Hari Perempuan Internasional atau International Womens Day (lWD) 2026 Suara Marsinah di depan Gedung DPR RI, Jakarta, Sabtu (7/3/2026). Dalam aksi tersebut mereka menuntut pemerintah agar mendorong pengakuan terhadap kerja reproduksi sosial seperti kerja perawatan, pengasuhan dan pengelolaan domestik sebagai kontribusi ekonomi, sosial, hukum, dan budaya.
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Hari Perempuan Internasional (International Women's Day) diperingati setiap 8 Maret. Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat mengatakan peringatan Hari Perempuan Internasional merupakan momentum penyadaran setiap anak bangsa tentang pentingnya kesetaraan dan keadilan bagi perempuan.
"Kepedulian terhadap keadilan dan kesetaraan perempuan tidak bisa sepenuhnya terwujud bila tidak didukung semua pihak dan kebijakan yang berdampak secara struktural di masyarakat," kata Lestari di Jakarta, Ahad (8/3/2026).
Tema peringatan IWD 2026 adalah "Give To Gain", kata dia, yang artinya memberi untuk mendapatkan, yang menekankan pada kekuatan kolaborasi, kemurahan hati, dan investasi sosial untuk menciptakan kesetaraan gender. Menurut dia, peringatan IWD pada bulan Ramadhan ini merupakan momentum yang tepat, karena semangat IWD tahun ini dan Ramadhan sejalan dengan mengedepankan nilai-nilai empati, keadilan, dan kepedulian sosial.
Nilai-nilai itu, kata dia, menjadi pengingat penting bahwa perjuangan mewujudkan kesetaraan gender tidak hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi juga seluruh elemen masyarakat. Selain itu dia mengatakan peringatan tersebut tidak hanya sebagai ajang perayaan, tetapi juga refleksi atas berbagai tantangan yang masih dihadapi perempuan di berbagai sektor kehidupan, mulai dari ekonomi, politik, hingga perlindungan dari kekerasan.
Dia menyampaikan laporan Global Gender Gap Report 2025 yang dirilis oleh World Economic Forum (WEF) mencatat skor kesenjangan gender Indonesia sebesar 0,692 dan menempatkan Indonesia pada peringkat ke-97 dari 148 negara. Kemudian data Survei Pengalaman Hidup Perempuan Nasional (SPHPN) 2024, menurut dia, juga menunjukkan bahwa 1 dari 4 perempuan berusia 15–64 tahun di Indonesia pernah mengalami kekerasan fisik atau seksual sepanjang hidupnya. Artinya, dia menilai bahwa hal itu menunjukkan kesetaraan gender dan perlindungan terhadap perempuan masih menjadi isu krusial dan pekerjaan rumah bagi pemerintah dan masyarakat. Dia berharap momentum IWD tahun ini dapat memperkuat kesadaran kolektif anak bangsa untuk mempercepat terwujudnya keadilan dan kesempatan yang setara bagi perempuan Indonesia.
sumber : Antara

2 hours ago
1















































