REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Gangguan irama jantung atau aritmia sering tidak disadari masyarakat, padahal kondisi ini dapat memicu komplikasi serius seperti stroke hingga gagal jantung.
Data World Health Organization menunjukkan penyakit kardiovaskular masih menjadi penyebab kematian terbesar di dunia dengan estimasi 19,8 juta kematian pada 2022. Salah satu bentuk gangguan jantung yang perlu diwaspadai adalah atrial fibrilasi (AF), jenis aritmia yang paling umum terjadi.
Secara global, kasus atrial fibrilasi diperkirakan mencapai sekitar 59–60 juta pada 2019 dan jumlahnya terus meningkat. Kondisi ini kerap tidak terdeteksi karena banyak pasien tidak merasakan gejala.
Direktur Penyakit Tidak Menular Kementerian Kesehatan Republik Indonesia Siti Nadia Tarmizi mengatakan aritmia menjadi salah satu masalah kesehatan yang perlu mendapat perhatian karena berkaitan erat dengan risiko penyakit jantung dan stroke.
Menurut dia, sekitar sepertiga pasien atrial fibrilasi tidak menunjukkan gejala sehingga banyak kasus baru diketahui setelah terjadi komplikasi.
“AF yang tidak tertangani dapat meningkatkan risiko stroke secara signifikan. Karena itu skrining dan deteksi dini menjadi sangat penting,” ujarnya dalam keterangan, Kamis (5/3).
Data dari Siloam Hospitals TB Simatupang menunjukkan adanya hubungan kuat antara aritmia dan stroke. Pada periode 2024–2025, sekitar 33 persen pasien stroke yang menjalani pemeriksaan dengan monitor ambulatori atau Holter terbukti memiliki aritmia.
Selain itu, sekitar 37 persen pasien stroke yang dirawat di rumah sakit tersebut berada pada usia produktif. Dalam periode yang sama, sebanyak 1.723 pasien aritmia berhasil dideteksi dan ditangani.
Ketua Indonesian Heart Rhythm Society Erika Maharani mengatakan jumlah pasien aritmia terus meningkat sementara layanan kesehatan masih menghadapi sejumlah tantangan, seperti keterbatasan infrastruktur dan distribusi tenaga subspesialis aritmia yang belum merata.
Sebagai respons terhadap kondisi tersebut, organisasi profesi mendorong penguatan deteksi dini, perluasan akses layanan, serta pengembangan sistem registri nasional aritmia berbasis data.
Sementara itu, Chief Medical Officer Siloam International Hospitals Grace Frelita mengatakan pihaknya terus memperkuat layanan jantung terpadu di berbagai rumah sakit dalam jaringan Siloam.
Saat ini Siloam memiliki 14 pusat pelayanan jantung terpadu yang didukung lebih dari 250 dokter spesialis dan subspesialis jantung. Setiap tahun, jaringan rumah sakit tersebut menangani lebih dari 2.100 operasi jantung serta sekitar 15.800 prosedur di laboratorium kateterisasi jantung (Cath Lab).
Ahli aritmia sekaligus dokter spesialis jantung di Siloam Hospitals TB Simatupang, Yoga Yuniadi, menjelaskan hingga 40 persen kasus stroke iskemik secara global berkaitan dengan atrial fibrilasi.
Menurutnya, salah satu pendekatan terapi yang efektif adalah prosedur ablasi kateter yang bertujuan mengembalikan irama jantung ke kondisi normal.
“Melakukan ablasi pada fase dini tidak hanya memperbaiki kualitas hidup pasien, tetapi juga dapat menurunkan risiko stroke dan meningkatkan harapan hidup,” katanya.
Untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap gangguan irama jantung, Siloam Hospitals TB Simatupang meluncurkan kampanye edukasi “Let’s Check The Beat” yang mendorong masyarakat melakukan deteksi dini melalui pemeriksaan elektrokardiogram (EKG).
Melalui program tersebut, masyarakat juga dapat memperoleh edukasi mengenai faktor risiko, pencegahan, serta perkembangan teknologi dalam penanganan aritmia.

1 hour ago
1















































