Oleh Ahmadie Thaha, Kolumnis
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Perang biasanya kita ceritakan lewat angka. Terlihat sekian ribu korban, sekian kota hancur, sekian tank terbakar. Angka-angka itu berbaris seperti siswa upacara, rapi, tegas, tapi dingin.
Lalu datanglah Sean Penn, aktor sineas aktivis yang kariernya tak pernah puas hanya di karpet merah penghargaan dunia. Ia gemar mengubah momen getir menjadi karya kreatif, seolah setiap ledakan harus punya gema moral.
Dalam film Animals in War, karyanya terbaru, ia memilih jalur bercerita yang tak biasa. Kali ini bukan manusia sebagai pusat tragedi, melainkan binatang.
Ia merangkai tujuh cerita pendek, tujuh makhluk tanpa paspor, dalam kemasan film yang apik. Tanpa pidato, tanpa akun media sosial — tapi justru paling jujur memantulkan wajah perang modern Ukraina–Rusia.
Film ini diproduksi sineas Ukraina sebagai respons atas invasi Rusia, dan sudah tayang perdana di Tribeca. Secara naratif, ia bukan propaganda berteriak, melainkan semacam doa yang patah-patah.
Setiap episode yang tujuh itu berdiri sendiri. Namun semua disatukan oleh satu kalimat tak tertulis: kemanusiaan diuji bukan saat damai, melainkan saat semua terasa tak masuk akal.
Kisah pertama tentang seorang bocah lelaki yang menuntun seekor sapi keluar dari desa yang diduduki. Ia bisa saja berlari sendirian, lebih cepat, lebih aman. Tapi ia memilih menarik tali tambang nasib bersama si sapi.
Adegan itu sederhana, tapi simboliknya seperti menampar kita pelan. Dalam situasi ekstrem, siapa yang kita selamatkan menunjukkan siapa diri kita yang sejati.
Dalam kacamata aktivisme Sean Penn, ini bukan soal hewan ternak, melainkan tentang kesetiaan pada yang lemah. Aktivisme baginya bukan konferensi pers, melainkan keberanian memanggul beban yang tidak menguntungkan secara politis.
Cerita kedua menghadirkan kelinci putih di tengah reruntuhan kota di Ukraina. Kelinci itu berpindah dari tangan ke tangan, mulai dari anak kecil, relawan, hingga tentara muda. Hewan bermata indah itu menjadi semacam saksi bisu yang tak bisa bersaksi di pengadilan mana pun.
Di sini film bermain antara realisme dan metafora. Kelinci yang tulangnya rapuh namun disayang anak-anak karena mata lucu dan kulit halusnya menjadi kontras brutal dengan suara artileri.
Sean Penn, yang lama dikenal turun langsung ke zona konflik dan bencana, seakan ingin berkata: lihatlah, yang paling tak bersalah justru paling duluan menjadi korban. Dalam logika aktivismenya, simpati harus dimulai dari yang paling tak berdaya.
Kisah ketiga tentang seorang pemuda Kyiv dan kucingnya. Masih di Ukraina. Saat listrik padam, sirene meraung, dan kota berubah menjadi labirin ketakutan, si pemuda tetap menggendong kucingnya saat mengungsi.
Ini bukan romansa sentimental. Ini potret psikologi perang di masa saja di seluruh belahan dunia. Hewan peliharaan sering menjadi jangkar kewarasan di tengah trauma.
Riset psikologi menunjukkan interaksi manusia-hewan dapat menurunkan stres dan menjaga stabilitas emosi. Film ini menjahit fakta itu menjadi narasi yang lembut. Sean Penn memaknainya sebagai bukti bahwa empati bukan kemewahan, melainkan kebutuhan bertahan hidup.
Ada pula cerita tentang seekor serigala bertubuh kekar yang terjebak di hutan terkontaminasi sisa-sisa perang. Hutan, yang biasanya netral, menjadi ladang ranjau.
Episode ini paling ekologis nadanya. Perang bukan hanya menghancurkan kota, tetapi juga ekosistem. Tanah, air, dan satwa liar menanggung konsekuensi yang tak masuk headline utama.
Dalam pola pikir aktivisme Penn, ini memperluas definisi korban yang terdampak perang. Bukan hanya warga sipil, tapi seluruh lanskap kehidupan.
Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.

2 hours ago
1















































