Kondisi Terminal Bus Bubulak yang tergenang air dan beberapa bagian jalan rusak di Kota Bogor, Jawa Barat, Jumat (11/10/2024). Tidak terawatnya infrastruktur terminal dan kerusakan jalan menyebabkan terminal tergenang air setelah hujan, sehingga mengurangi kenyamanan penumpang.
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pengamat transportasi, Muhammad Akbar menyampaikan pemerintah perlu melakukan langkah strategis dalam memitigasi dampak cuaca ekstrem terhadap sektor transportasi. Akbar menilai Kementerian Perhubungan (Kemenhub) para operator transportasi perlu mengubah cara pandang dari sekadar siap merespons gangguan menjadi hidup berdampingan dengan risiko alam.
"Transportasi kita sebaiknya dirancang di mana perubahan iklim adalah faktor struktural. Sebab kalau hujan deras, banjir, atau longsor masih dianggap kejadian luar biasa, maka setiap tahun kita akan selalu terkejut dan selalu terlambat," ujar Akbar saat dihubungi Republika di Jakarta, Kamis (29/1/2026).
Akbar mengatakan hal yang mendasar juga adalah membangun sistem transportasi yang punya daya lentur. Hal ini bisa dilakukan dengan pemetaan risiko berbasis data iklim yang diperbarui rutin, standar infrastruktur yang mengakui realitas banjir dan longsor, serta protokol antarlembaga yang jelas.
"Jadi bukan sekadar koordinasi ad hoc saat krisis sudah terjadi," ucap Akbar.
Sebelumnya, PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) mengimbau seluruh pengguna jasa penyeberangan, khususnya di lintas utama Sumatera–Jawa–Bali, untuk meningkatkan kewaspadaan dan menjadikan keselamatan sebagai prioritas utama dalam setiap perjalanan.
Direktur Utama ASDP Heru Widodo mengatakan imbauan ini menyusul dinamika operasional yang terjadi di Pelabuhan Merak pada Jumat (23/1/2026) seiring pengaruh kondisi cuaca yang kurang bersahabat.
"Situasi tersebut menjadi pengingat penting bahwa faktor alam memiliki peran signifikan dalam operasional penyeberangan, terutama pada jalur-jalur vital yang menghubungkan pusat-pusat mobilitas nasional," ujar Heru dalam keterangan tertulis di Jakarta, Ahad (25/1/2026).
Berdasarkan prakiraan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) periode 25 hingga 31 Januari 2026, sebagian besar wilayah Indonesia masih berada pada puncak musim hujan yang dipengaruhi penguatan Monsun Asia serta aktivitas gangguan tropis di wilayah selatan Indonesia. Kondisi ini berpotensi meningkatkan intensitas hujan, kecepatan angin, serta tinggi gelombang di sejumlah perairan strategis.

1 hour ago
2
















































