Ini Mobil Terlaris Dunia di 2025, Penjualan Tembus Rekor

2 hours ago 1

Jakarta, CNBC Indonesia - Toyota Motor kembali mempertahankan statusnya sebagai produsen mobil terlaris di dunia pada 2025, meskipun industri otomotif global dibayangi kebijakan tarif agresif Amerika Serikat (AS). Produsen otomotif asal Jepang itu mencatatkan rekor penjualan global sebesar 10,5 juta unit sepanjang 2025.

Penjualan Toyota bersama merek premiumnya, Lexus, tumbuh 3,7% secara tahunan. Penjualan mengungguli para pesaing utama seperti Volkswagen Group yang mencatatkan sekitar 9 juta unit, serta Hyundai Motor Group dengan 7,27 juta unit.

Kinerja solid tersebut terutama ditopang oleh lonjakan permintaan kendaraan hibrida di Amerika, termasuk model Prius dan RAV4. Di pasar AS saja, penjualan Toyota dan Lexus meningkat 7,3% menjadi 2,93 juta unit.

Capaian ini cukup mencolok. Hal itu mengingat Presiden AS Donald Trump sebelumnya memberlakukan tarif impor otomotif sebesar 25% terhadap kendaraan asal Jepang, sebelum akhirnya diturunkan menjadi 15%.

"Strategi kami adalah menyerap dampak biaya tarif tanpa membebankannya secara luas kepada konsumen, sembari memperkuat produksi lokal dan efisiensi biaya," ujar Toyota dalam pernyataan resminya, seperti dikutip CNBC International, Jumat (30/1/2026).

Namun demikian, Toyota mengakui tarif AS tetap memberi tekanan. Pada November lalu, perusahaan memperkirakan kebijakan tersebut akan membebani kinerja hingga 1,45 triliun yen, atau sekitar Rp152 triliun, pada tahun fiskal yang berakhir Maret 2026.

Meski begitu, Toyota justru menaikkan proyeksi laba operasional setahun penuh, dengan alasan keberhasilan pengendalian biaya serta kuatnya permintaan di luar pasar AS. Dalam laporan terpisah, analis yang dikutip Reuters memperkirakan laba operasional Toyota akan pulih hampir 30% pada kuartal ketiga fiskal ini dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Tarif AS Tekan Pesaing

Di sisi lain, dampak tarif AS terlihat lebih jelas pada pesaing Toyota. Hyundai Motor melaporkan pertumbuhan pendapatan global lebih dari 6% pada 2025, didorong oleh penjualan hibrida di AS. Namun, laba operasional perusahaan asal Korea Selatan (Korsel) itu anjlok 19,5%, terutama akibat bea masuk AS yang menimbulkan kerugian sekitar 4,1 triliun won, atau setara Rp49 triliun.

Korsel dan AS memang telah menyepakati perjanjian perdagangan yang menurunkan tarif mobil menjadi 15% sejak November. Namun, Trump pada awal pekan ini mengancam akan menaikkan kembali tarif menjadi 25%, dengan alasan parlemen Seoul dinilai lamban menerapkan kesepakatan tersebut, menekan saham Hyundai yang turun hampir 5%.

Berbeda dengan Toyota, Hyundai masih sangat bergantung pada impor. Perusahaan menyebut hanya sekitar 40% mobil yang dijual di AS diproduksi secara lokal pada 2025.

Hyundai menargetkan angka tersebut naik menjadi lebih dari 80% pada 2030 melalui ekspansi fasilitas produksi di Georgia. Sementara itu, Toyota hanya mengandalkan impor untuk sekitar 20% penjualannya di AS dan terus menggenjot ekspansi manufaktur lokal, khususnya untuk kendaraan hibrida.

Di pasar modal, kepercayaan investor terhadap Toyota tetap kuat. Saham Toyota melonjak 3% dalam perdagangan Kamis, menjelang rilis laporan kinerja kuartal ketiga fiskal pada 6 Februari mendatang.

(sef/sef)
[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|