Investor Pemula Rentan, LPS Minta Data Pribadi Tidak Dibagikan

3 hours ago 2

Investor Pemula Rentan, LPS Minta Data Pribadi Tidak Dibagikan Foto ilustrasi investasi. / Freepik

Harianjogja.com, JOGJA—Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) mengingatkan masyarakat untuk menjaga keamanan data pribadi saat melakukan investasi karena risiko kejahatan digital di sektor keuangan terus meningkat. Peringatan ini disampaikan LPS seiring tingginya minat investasi di kalangan nasabah, khususnya investor pemula.

Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Anggito Abimanyu menilai tren investasi yang semakin diminati masyarakat, mulai dari saham hingga aset kripto, perlu diimbangi dengan pemahaman yang memadai terkait mekanisme, risiko, dan perlindungan data pribadi.

Edukasi menjadi kunci agar nasabah tidak terjebak praktik kejahatan digital yang memanfaatkan celah kurangnya literasi keuangan.

"Nasabah-nasabah pemula sekarang gairah berinvestasinya tinggi, saham, mau ke kripto dan sebagainya. Nah, itu kita beri edukasi supaya mereka tahu mekanismenya dan risiko yang harus dihadapi," ujar Anggito di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas (GIK) Universitas Gadjah Mada (UGM), Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Jumat, (Jumat, 27/2/2026).

Ia menegaskan meningkatnya aktivitas investasi berbanding lurus dengan potensi ancaman kejahatan digital yang menyasar nasabah, terutama kelompok pemula yang belum memiliki pengalaman memadai dalam mengelola risiko keuangan. Oleh karena itu, masyarakat diminta lebih berhati-hati dalam menjaga kerahasiaan data pribadi ketika menggunakan berbagai layanan keuangan digital.

Menurut Anggito, pemahaman mengenai instrumen investasi harus diikuti kesadaran terhadap risiko keamanan siber, termasuk potensi penipuan daring yang kian beragam modusnya. Literasi keuangan tidak hanya soal keuntungan, tetapi juga perlindungan terhadap identitas dan akses finansial pribadi.

"Jangan terbuai dengan iming-iming. Jangan sampai 'ngasih' OTP-nya, 'password'-nya itu ditutup. Terus kemudian hati-hati dengan 'scamming', 'malware', sampai 'hackers'," kata Anggito.

Selain edukasi langsung kepada masyarakat, penguatan literasi dan keamanan keuangan juga dilakukan melalui riset kolaboratif antara LPS dan perguruan tinggi. Kajian tersebut bertujuan memahami perilaku nasabah, tren investasi, serta potensi risiko di sektor keuangan sehingga strategi perlindungan konsumen dapat disusun lebih tepat sasaran, termasuk dalam menghadapi ancaman kebocoran data pribadi saat investasi yang semakin kompleks.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber : Antara

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|