Petugas memeriksa syuhada akibat serangan Israel di Seikh Radwan, Jalur Gaza, Sabtu (31/1/2026).
REPUBLIKA.CO.ID, GAZA— Sejak dini hari, Israel mulai menghujani Gaza dengan serangan mirip perang genosida yang dimulai pada Oktober 2023 dan berlangsung selama dua tahun, menewaskan lebih dari 71 ribu orang, kebanyakan perempuan dan anak-anak.
Eskalasi ini terjadi bersamaan dengan upaya Presiden AS Donald Trump untuk memulai tahap kedua rencananya untuk Gaza, yang mencakup pembukaan perlintasan Rafah, pembentukan dewan perdamaian, dan pelucutan senjata perlawanan.
Berikut ini,
Pertama, apa yang telah terjadi sejauh ini?
Koresponden Aljazeera melaporkan, sejak Sabtu (1/2/2026) dini hari, pesawat tempur Israel terus melakukan pemboman gencar di berbagai wilayah di Jalur Gaza.
Sampai saat ini, serangan tersebut telah menewaskan 29 orang dan melukai puluhan lainnya, serta menyebabkan kebakaran di tenda-tenda pengungsi di kota Khan Yunis, selatan Jalur Gaza.
Kementerian Dalam Negeri Jalur Gaza mengumumkan adanya korban meninggal dunia dan luka-luka akibat serangan Israel yang menargetkan markas polisi di distrik Sheikh Radwan, utara kota.
Peta yang disusun Aljazeera menunjukkan serangan Israel mencakup wilayah utara dan selatan Gaza.
Serangan tersebut menimpa daerah-daerah padat penduduk, pusat-pusat sipil, dan daerah-daerah pengungsian yang seharusnya aman bagi para pengungsi.
Menurut data geografis yang ditampilkan dalam peta tersebut, serangan terkonsentrasi di dalam apa yang dikenal sebagai garis kuning, yaitu daerah-daerah di luar kendali militer Israel, kini menjadi tempat tinggal sebagian besar penduduk di Jalur Gaza setelah pengungsian paksa yang berulang kali terjadi.

1 month ago
23

















































