Orang-orang memegang poster saat melakukan aksi protes terhadap serangan militer Amerika Serikat (AS) ke Iran, di Columbus Circle, New York, New York, AS, 28 Februari 2026. Israel dan militer AS melakukan serangan gabungan yang menargetkan sejumlah lokasi di Iran pada dini hari 28 Februari 2026, yang segera memicu demonstrasi di berbagai kota di AS.
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Ekonom Amerika Serikat Jeffrey Sachs menilai konflik antara Amerika Serikat dan Iran bukan semata soal senjata nuklir, melainkan terkait kepentingan geopolitik di Timur Tengah. Ia menyebut isu nuklir kerap dijadikan alasan, sementara akar persoalan dinilai lebih dalam.
Dalam pernyataannya di Analyst News, Sachs mengatakan perang terhadap Iran tidak mencerminkan kepentingan nasional Amerika Serikat.
“Ini bukan tentang senjata nuklir. Ini tentang hegemoni regional Israel di Timur Tengah. Israel ingin menjatuhkan rezim Iran, titik,” ujarnya dikutip Ahad (1/3/2026).
Sachs menilai narasi Washington berupaya mencegah Iran memiliki senjata nuklir tidak sepenuhnya tepat. Ia menyinggung kesepakatan nuklir Iran yang sebelumnya telah dinegosiasikan, namun kemudian dibatalkan pada era Presiden Donald Trump.
“Gagasan bahwa ini untuk mencegah Iran mendapatkan senjata nuklir, itu sudah dinegosiasikan. Trump yang membatalkannya,” katanya.
Ia juga menyatakan Iran berulang kali menyampaikan keinginan untuk bernegosiasi. Namun menurutnya, Amerika Serikat tidak menerima tawaran tersebut.
“Amerika Serikat tidak menerima ‘ya’ sebagai jawaban karena ini bekerja untuk pemerintah Israel. Ini intinya,” ujar Sachs.
Lebih jauh, ia mempertanyakan mengapa kebijakan luar negeri AS di Timur Tengah kerap sejalan dengan kepentingan Israel selama puluhan tahun terakhir. Ia bahkan menyebut kemungkinan adanya faktor politik domestik, tekanan kelompok tertentu, hingga dugaan kepentingan lain di balik kebijakan tersebut.
“AS tidak punya kepentingan apa pun untuk berperang dengan Iran saat ini. Jika perang itu terjadi, itu karena Israel mengatakan kepada Amerika Serikat apa yang harus dilakukan,” katanya.
Pernyataan Sachs muncul di tengah meningkatnya ketegangan kawasan setelah serangan militer dan aksi balasan antara kedua pihak. Konflik tersebut memicu kekhawatiran pasar global, terutama terkait harga energi dan stabilitas ekonomi dunia.
Bagi masyarakat internasional, eskalasi konflik bukan hanya soal politik luar negeri, tetapi juga berdampak pada harga minyak, inflasi, dan ketidakpastian ekonomi global.

8 hours ago
3














































