Jakarta, CNBC Indonesia - Kalangan pengusaha di Indonesia masih enggan berekspansi di Indonesia. Mempertimbangkan daya beli masyarakat yang tak kunjung pulih, bahkan terbilang anomali memasuki periode Ramadan dan Lebaran 2025.
Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta Widjaja Kamdani mengatakan, keengganan ekspansi usaha ini dipicu oleh lemahnya pertumbuhan penjualan.
"Kebetulan kemarin kami melakukan survei ya, jadi memang sebagian besar daripada pelaku usaha memang hampir semua ya mengalami perlambatan pertumbuhan penjualan, bahkan 4 dari 10 pelaku usaha itu menyampaikan pertumbuhan penjualannya kurang dari 3%," kata Shinta dalam program Power Lunch CNBC Indonesia, Selasa (25/3/2025).
Indeks Penjualan Riil (IPR) yang disurvei Bank Indonesia (BI) tak mampu tumbuh signifikan hingga tahun ini. Per Februari 2025 saja hanya tumbuh 0,8% dibanding Januari 2025, dan terkontraksi 0,5% dibanding Februari 2024.
Kondisi ini kata Shinta menjadi pertanda bagi kalangan pengusaha bahwa pertumbuhan pasar ritel di dalam negeri stagnan. Dipicu oleh masalah tingginya suku bunga pinjaman, hingga nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang terus tertekan.
"Jadi kita melihat stagnasi daripada pertumbuhan pasar domestik, suku bunga tinggi, tadi pelemahan nilai tukar juga ini semua menjadi sangat uncertain ya, jadi iklim-iklim unpredictable, jadi kita sangat uncertain terhadap kondisi ini," tutur Shinta.
"Makanya kalau dilihat dari ekspansi juga pelaku usaha sangat berhati-hati, jadi anggapnya tidak terlalu berani untuk melakukan ekspansi," tegasnya.
Shinta menekankan, permasalahan ini yang membuat kalangan pengusaha masih belum berani untuk melakukan ekspansi usaha. Bila daya beli masyarakat kembali pulih, ia pastikan ekspansi usaha juga pasti akan terjadi.
"Mereka belum berani untuk melakukan ekspansi berlebihan, kecuali memang demand pasarnya itu memungkinkan di sektor tertentu untuk melakukan itu, tapi mereka lebih berhati-hati dan prudent dalam melakukan ekspansi usaha," tutur Shinta.
(arj/mij)
Saksikan video di bawah ini:
Video: Kupas Kondisi Ekonomi Indonesia Jelang Lebaran
Next Article Video: RI Deflasi Jelang Ramadan, Bukti Daya Beli Rakyat RI Melemah?