REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- COO Danantara Indonesia Dony Oskaria mengatakan model sovereign wealth fund (SWF) Indonesia melalui Danantara Indonesia menarik perhatian banyak SWF negara lain. Ia menyebut sejumlah SWF asing tertarik mengadopsi model SWF Indonesia tersebut.
"Sovereign wealth fund kita unik kalau kita bandingkan dengan sovereign wealth fund yang ada di negara lain. Tidak banyak yang seperti kita," ujar Dony dalam acara Investor Daily Round Table di Jakarta, Rabu (28/1/2026).
Dony menyampaikan SWF pada umumnya menginvestasikan kelebihan fiskal. Sementara itu, Danantara merupakan SWF yang berbasis BUMN sebagai inti dari pengelolaannya.
"Danantara itu core-nya sebetulnya adalah pengelolaan BUMN. Kalau BUMN yang dikelola dengan baik maka mesin Danantara itu berjalan dengan baik," ucap Dony.
Oleh karena itu, lanjut Dony, pihaknya telah membentuk dua model melalui Danantara Asset Management (DAM) dan Danantara Investment Management (DIM) sebagai ujung tombak bisnis. Ia mengatakan sejumlah SWF negara lain menilai praktik pemisahan tersebut memberikan pembagian fungsi dan kewenangan yang efektif antara investasi dan pengelolaan BUMN.
"Yang luar biasanya, pola atau modeling yang kita buat ini diikuti beberapa SWF lain yang namanya sudah sangat besar di dunia, datang ke kita, mereka meniru, mengubah polanya mereka menjadi seperti kita," sambung Dony.
Dony mengatakan BUMN menjadi kunci keberlanjutan Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara. Ia menyebut baik atau buruknya kinerja Danantara sangat bergantung pada performa BUMN.
"Kalau kita keliru mengelola BUMN-nya maka tidak akan pernah ada ke depannya BPI Danantara, bahkan ini akan menjadi membahayakan ke depannya kalau BUMN-nya tidak dikelola dengan baik," lanjut Dony.
Setahun berdiri, sambung Dony, Danantara telah melaksanakan proses transisi dan transformasi pengelolaan BUMN. Transformasi tersebut dilakukan melalui sejumlah tahapan, tidak sekadar konsolidasi, tetapi juga fundamental business review.
"Kita melihat bisnis modelnya mereka, melihat revenue stream-nya mereka, melihat revenue composition-nya mereka, melihat cost structure-nya, melihat Ebitda margin-nya," ucap Dony.
Dony menjabarkan indikator-indikator tersebut akan disandingkan dengan best practice di masing-masing industri. Hal ini menjadi acuan dalam mengukur kapasitas serta prospektif BUMN ke depan.
"Dari sini kita jadi memahami sebetulnya perusahaan kita ini memiliki kemampuan atau tidak," kata Dony.

2 hours ago
2















































